18 Juni 2020 | Dilihat: 177 Kali
PDIP Aceh Gelar Diskusi Umum Bahas Sosok Bung Karno, Islam dan Pancasila
noeh21
 

IJN - Banda Aceh | Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Provinsi Aceh menggelar Webinar bertema “Aceh, Bung Karno, Islam dan Pancasila” sebagai bentuk peringatan Bulan Bung Karno, Kamis, 18 Juni 2020.
 
Dalam acara diskusi virtual menggunakan Zoom Cloud Meeting yang terbuka untuk umum tersebut, DPD - PDI Perjuangan Provinsi Aceh menghadirkan pemberi diskusi, Tgk. H. Faisal Ali yang merupakan Ketua PWNU Aceh yang berbicara mengenai Islam dan Pancasila.
 
Tgk. H. Faisal Ali atau yang akrab disapa Lem Faisal dalam diskusi virtual tersebut mengatakan, Pancasila merupakan titik temu yang mengakomodir semua perbedaan yang disusun melalui Panitia Sembilan dari berbagai golongan besar bersatu dalam tenda besar pancasila.
 
"Pancasila menjadi perjanjian yang yang kuat dan agung yang harus kita pertahankan. Pancasila juga sebagai konsensus nasional yang melindungi seluruh agama di Indonesia,” ungkap Lem Faisal.
 
Pada akhir sesinya ia secara tegas menjelaskan, bahwa Pancasila sangat tidak bertentangan dengan islam bahkan pancasila merupakan dasar negara yang sangat mengandung unsur keislaman dalam kelima silanya tersebut.
 
Pemateri lainnya juga dihadirkan tokoh partai, Dr. Ahmad Basarah yang merupakan Ketua DPP PDI Perjuangan dan juga sebagai Wakil Ketua MPR RI.
 
Dalam paparannya, Dr. Ahmad Basarah menceritakan perjuangan Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia serta menunjukkan bukti-bukti bahwa Soekarno adalah sosok yang agamais, tidak seperti banyak orang yang menuduhnya anti islam.
 
“Salah satu bukti keislaman Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan adalah pada saat persidangan PPKI, sebelum persidangan dimulai Soekarno mengambil inisiatif untuk mendekati tokoh-tokoh islam agar bersedia mengubah tujuh kata dalam Piagam Djakarta menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa," ungkap Dr. Ahmad Basarah dalam diskusi tersebut.
 
Alasannya adalah, demi persatuan Indonesia sehingga para tokoh islam masa itu bersedia mengubah tujuh kata dalam Piagam Djakarta menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.
 
“Kita juga tidak boleh melupakan tokoh-tokoh Aceh seperti Teuku Haji Muhammad Hasan yang lahir di Pidie dan meninggal di Jakarta pada tahun 1997, sosok tersebut telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional karena jasanya yang sangat besar dalam merumuskan dan memperjuangankan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa,” sambungnya.
 
Acara diskusi ini berlanjut dengan sejumlah narasumber yang hadir seperti Bung Alkaf, M.Si yang merupakan Kepala Pusat Studi Pancasila IAIN Langsa yang berbicara mengenai Aceh dan Soekarno.
 
Menurut Kepala Pusat Studi Pancasila IAIN Langsa, Bung Karno merupakan tokoh pembangun solidaritas dalam mempersatukan bangsa, hal yang sama sebagaimana tokoh Aceh Daud Bereueh lakukan pada masa itu. Namun karena ada kesepakatan yang tidak tercapai antara Bung Karno dan Aceh pada masa itu yang disebabkan oleh konstelasi politik nasional.
 
"Bung Karno menjadi kurang power full sebagai presiden sehingga dianggap Bung Karno ingkar janji terhadap Aceh. Ditambah dengan adanya upaya De Soekarnoisasi saat orde baru, sehingga sangat diperlukan dialog untuk menyelesaikan sekat-sekat ideologis,” kata Kepala Pusat Studi Pancasila IAIN Langsa tersebut.
 
Kemudian dilanjutkan oleh Dr. Drs. Tgk. H. Gunawan Adnan, M.A, Ph.D yang merupakan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang berbicara mengenai jejak Soekarno di Darusslam. Dalam paparannya ia menjelaskan bahwa kita sangat perlu mengingat jasa Bapak Bangsa kita Soekarno dalam membangun Sumber Daya Manusia di Aceh.
 
“Tugu Darussalam merupakan bukti nyata peninggalan Soekarno dengan coretan tangan Soekarno yang masih ada hingga sekarang. Pada saat itu Soekarno menyatakan bahwa Darusslam sebagai pusat pendidikan Daerah Aceh dimana berdiri 3 lembaga besar yaitu Universitas Syiah Kuala, IAIN yang kini menjadi UIN Ar-Raniry dan STAI Tgk Chik Pante Kulu sebagai modal pembangunan serta kemajuan Daerah Aceh khususnya,” Kata Dr. H. Gunawan Adnan, M.A., Ph.D.
 
“Selain itu, kita juga memperingati Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) yang diperingati setiap tanggal 2 September yang mengingatkan kita akan sosok tokoh visioner seperti Bug Karno,” tambahnya.
 
Kegiatan diskusi ini diikuti secara virtual yang dibuka oleh umum yang dipandu oleh moderator Dr. Ernita Dewi, M.Hum yang merupakan Dekan FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh hingga kegiatan berakhir pada pukul 17.20 WIB.
 
Ketua Panitia Webinar Drs. T. Sulaiman Badai menyatakan, Webinar hari ini sangat baik untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Aceh dalam wawasan sejarah kiprah Soekarno di Aceh, dan keterkaitan Pancasila dengan Islam dan diharapkan dapat membuka mata dan hati masyarakat Aceh terhadap wawasan tersebut. 
 
Dengan keterbukaan tersebut diharapkan dapat membawa dampak positif bagi kemajuan Aceh.
 
 
Editor : Mhd Fahmi
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com



Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com