26 Desember 2019 | Dilihat: 2307 Kali
Aktivis Perempuan Aceh Nilai Anggota DPRA Kehilangan Nyali: Lebih Baik Mundur Saja
noeh21
Aktivis Perempuan, Rahmatun Phounna. Foto: IJN
 

IJN - Jakarta | Aktivis Perempuan Aceh Rahmatun Phounna menilai Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh sudah kehilangan nyali dan wibawanya. Menurut dia, DPR Aceh sekarang hanya menjadi penonton ditengah kebijakan Pemerintah Aceh yang dianggap kurang peka terhadap kondisi rakyat.

"Ketika yang lainnya bersuara menyorot rencana pembelian mobil dinas 100 miliar dan rencana pembelian pesawat 300 miliar lebih, DPR Aceh malah nyaris tak terdengar suaranya," kata Phounna kepada Media INDOJAYANEWS.COM, Kamis 26 Desember 2019.

Sebagai bagian dari rakyat Aceh, Phounna mengaku sedih dan kecewa karena masih banyak rakyat hidup di bawah garis kemiskinan. Padahal kata Dia, anggaran yang digelontorkan Pemerintah Pusat untuk Aceh sangat besar pasca konflik dan musibah tsunami.

"Tapi yang kita sayangkan, sudah 14 tahun damai Aceh, dan hari ini tepat 15 tahun pasca musibah tsunami, kenyataannya rakyat Aceh masih banyak yang hidup susah. Bahkan sebagian besar mantan kombatan GAM yang dulunya mempertaruhkan nyawa untuk Aceh, masih hidup menderita," ungkapnya.

Mantan Presiden Mahasiswa Unaya itu mengaku heran, menjelang pemilihan legislatif, banyak calon anggota DPRA yang turun ke desa memberikan bantuan kepada masyarakat miskin, anak yatim maupun orang yang ditimpa musibah.

"Tapi itu hanya dilakukan untuk pencitraan semata, setelah terpilih, mereka malah lupa kepada rakyat. Padahal ini adalah bentuk pengkhiatanan kepada rakyat. Saya melihat DPRA sekarang seperti kehilangan nyali, padahal mereka perpanjangan tangan rakyat di parlemen," jelasnya.

Gadis asal Pidie ini mengharapkan, DPR Aceh periode 2019-2024 lebih aktif membela kepentingan rakyat Aceh. "Jangan kalah dengan berita pencitraan saat kampanye. Karena sudah terpilih, harusnya lebih giat membantu rakyat, membantu orang sakit yang butuh bantuan, dan lebih sering turun ke lokasi saat terjadi bencana," harapnya.

Selain itu, lanjut Phounna, kritik DPR terhadap Pemerintah juga jangan kalah dengan LSM. Karena sejatinya, DPR lah yang harus lebih aktif menyampaikan aspirasi rakyat untuk pembangunan dan perencanaan anggaran yang tepat sasaran, sehingga rakyat tidak terus hidup di bawah penderitaan kemiskinan.

"Anggota dewan yang terhormat, jangan lupa bahwa saat ini Aceh masih berada di posisi daerah termiskin di Sumatera. Peran anggota dewan harus lebih besar dari LSM, jangan mau kalah, karena anda digaji untuk pekerjaan ini, bukan LSM," imbuhnya.

Bahkan, Phounna menyarankan, jika merasa tak mampu mengemban amanah, lebih baik mengundurkan diri secara terhormat dari wakil rakyat. "Jangan sampai keberadaan anda di parlemen hanya untuk menghabiskan uang rakyat, sementara peran anda untuk rakyat tidak sesuai harapan," ketusnya.

Terakhir, Phounna menegaskan, bahwa baik tidaknya kondisi Aceh saat ini bukan hanya salah Eksekutif, Legislatif pun ikut terlibat. "DPRA juga tidak boleh lepas tanggung jawab, karena DPRA juga ikut berperan terhadap kemajuan Aceh. Makanya, sering-seringlah mengkritik dan memberikan saran kepada Eksekutif, pergunakan peran dan fungsinya dengan maksimal, sehingga Pemerintah Aceh tidak salah jalan dan lupa diri," pungkasnya.

Penulis: Hidayat. S
Kantor Media Indojayanews.com
Klik Di Sini
Jl. Cendana Utama, lr.Jampeitam I
Kecamatan Syiah Kuala.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
Email : redaksiindojaya@gmail.com


Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com