24 Mei 2026 | Dilihat: 67 Kali

ASUH Jadi Perhatian dalam Pemilihan Hewan Kurban Idul Adha

noeh21
Teks Foto:  Praktisi sekaligus dosen Universitas Almuslim Bireuen, Dr. drh. Zulfikar, M.Si. Foto: IJN / Amiruddin.
      
IJN - Bireuen | Aspek Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) menjelang Hari Raya Idul Adha, menjadi perhatian penting dalam pemilihan hewan kurban. Praktisi sekaligus dosen Universitas Almuslim Bireuen, Dr. drh. Zulfikar, M.Si., mengingatkan masyarakat agar lebih selektif dalam memilih hewan kurban agar sesuai syariat Islam dan memenuhi standar kesehatan.
 
Menurut Zulfikar, pemilihan hewan kurban yang tepat menjadi bagian penting untuk memastikan ibadah kurban berjalan sah dan bernilai ibadah. Ia menyebutkan hewan yang dapat dijadikan kurban terdiri atas unta, sapi, kerbau, kambing, dan domba dengan ketentuan usia tertentu.
 
“Unta minimal berusia lima tahun, sapi atau kerbau minimal dua tahun, sedangkan kambing dan domba minimal satu tahun,” kata dia. Selain syarat usia, kondisi kesehatan hewan juga harus menjadi perhatian utama.
 
Hewan kurban yang layak dipilih umumnya memiliki postur tubuh tegap, bulu bersih, mata cerah, serta tidak menunjukkan tanda-tanda sakit seperti kurus, lemas, atau memiliki luka pada tubuh, jelas Zulfikar.
 
Ia juga menjelaskan, pemeriksaan sederhana dapat dilakukan melalui kondisi kotoran hewan. Kotoran yang padat menunjukkan kondisi kesehatan yang baik, sementara kotoran cair dapat menjadi indikasi gangguan kesehatan.
 
Lebih lanjut, Zulfikar menekankan pentingnya memastikan hewan memiliki dokumen kesehatan berupa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) sebagai bukti bahwa ternak sehat dan layak dikurbankan.
 
Selain itu, masyarakat diminta memperhatikan asal-usul hewan, lingkungan pemeliharaan, serta memastikan hewan tidak mengalami cacat dan bukan ternak betina yang sedang bunting.
 
“Lingkungan pemeliharaan yang bersih akan memengaruhi kualitas ternak. Karena itu, masyarakat juga perlu memperhatikan tempat hewan dipelihara sebelum membeli,” katanya.
 
Zulfikar menyarankan, masyarakat membeli hewan kurban lebih awal agar memiliki lebih banyak pilihan dan harga yang relatif lebih terjangkau. Bila diperlukan, masyarakat dapat meminta bantuan tenaga ahli atau peternak berpengalaman untuk memastikan kelayakan hewan.
 
Lebih lanjut dijelaskan, aspek kesehatan hewan perlu menjadi perhatian terutama dalam situasi munculnya penyakit menular pada ternak. Masyarakat diimbau mengikuti ketentuan dan fatwa ulama terkait hewan kurban yang sakit atau cacat.
 
Dengan penerapan prinsip ASUH, pelaksanaan ibadah kurban diharapkan tidak hanya memenuhi syariat, tetapi juga menjamin kualitas dan keamanan daging yang akan didistribusikan kepada masyarakat.
 
Penulis | Amiruddin 
Editor | Muhammad Zairin