31 Des 2025 | Dilihat: 213 Kali

Butuh Bantuan Pusat Untuk Pemulihan Akibat Banjir di Kabupaten Bireuen

noeh21
Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST didampingi para pejabat jajaran Pemkab Bireuen pada acara Acara Ngopi Pagi Sinergi dan Kolaborasi Pemkab Bireuen dengan Pers Pasca Bencana Banjir dan Tanah Longsor Untuk Pemulihan dan Kebangkitan di Pendopo setempat. Foto: IJN/Amiruddin.
      
IJN - Bireuen | Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST menyebutkan, untuk pemulihan akibat banjir di Kabupaten Bireuen perlu bantuan dari Pemerintah Pusat. Hal ini dikarenakan banyaknya sarana dan prasarana, serta rumah warga yang rusak akibat bencana yang terjadi pada tanggal 26 November 2025.
 
Demikian antara lain disampaikan Bupati Bireuen pada Acara Ngopi Pagi Sinergi dan Kolaborasi Pemkab Bireuen dengan Pers Pasca Bencana Banjir dan Tanah Longsor Untuk Pemulihan dan Kebangkitan di Pendopo setempat, Rabu, 31 Desember 2025.
 
Mukhlis menjelaskan, berdasarkan data sementara lebih kurang 16 ribu rumah warga rusak, 3000 diantaranya rusak berat dan bahkan ada yang hilang. "Artinya ada yang hilang dibawa air dan yang tidak bisa ditempati lagi," ucap Mukhlis. 
 
Di sektor pangan, keresahan juga kian terasa. Sekitar 2.000 hektare sawah rusak berat dan tertimbun sedimen, sementara tambak warga berubah mengalami hal yang sama. 
 
Dari total sekitar 15 ribu hektare lahan sawah di Bireuen, hampir separuhnya tak lagi bisa digarap. Sebagian sawah yang tersisa pun bergantung pada tadah hujan. 
“Itu belum lagi irigasi yang rusak akibat banjir,” kata Mukhlis.
 
Tak hanya rumah dan sawah, akses penghubung warga ikut terputus. Delapan jembatan di sepanjang DAS Krueng Peusangan rusak akibat derasnya arus dan meluapnya sungai. Namun berkat kerja sama TNI, Polri, relawan, dan para pengusaha, seluruh wilayah Bireuen kini kembali terhubung, termasuk daerah pelosok yang sempat terisolir, kata dia. 
 
Delapan jembatan yang rusak di DAS Krueng Peusangan diantaranya di Cot Ara, Pante Lhong, Teupin Reudeup, Ulee jalan, Teupin Mane, Alue Limeng, Sarah Sirong, dan jembatan Pante Peusangan.
 
"Terjadi akibat pelebaran sungai dan tingginya permukaan air saat banjir," kata Mukhlis. 
 
Sementara itu, Mukhlis juga menyinggung titik-titik pengungsian mulai berkurang, bukan berarti persoalan selesai. Pemerintah daerah, katanya, kini berjuang keras memastikan dapur warga tetap mengepul, harga kebutuhan pokok terkendali, serta layanan dasar di pengungsian, seperti air bersih tetap tersedia, meski pelayanan yang diberikan saat ini belum sempurna.
 
“Pasca bencana ini sangat berat, terutama dari sisi ekonomi. Angka kemiskinan berpotensi bertambah karena banyak warga kehilangan matapencaharian,” ungkap Bupati.
 
Penulis : Amiruddin 
Editor : Muhammad Zairin
Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas