IJN - Aceh Singkil | Sejak selesai dibangun beberapa tahun lalu dengan menghabiskan anggaran milyaran rupiah hingga masa pandemi covid-19 melanda Negara Kesatuan Republik Indonesia, fungsi 2 terminal besar yang ada di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, dinilai belum berjalan sebagai mana mestinya dengan baik.
"Dua terminal bangunan besar dan luas yang terletak di Kecamatan Gunung Meriah dan Singkil, Pusat Ibukota Kabupaten Aceh Singkil, terlihat kumuh dan tidak berfungsi optimal," ucap Tokoh Pemuda setempat, Hendri, Sabtu, 7 November 2020.
Sehingga banyak para pengemudi dan loket angkutan umum memilih mojok di wilayah lain yang dianggap lebih strategis untuk mendapatkan penumpang.
Bahkan, salah satu bangunan terminal di Kecamatan Singkil, saat ini sudah beralih fungsi sebagai salah satu Kantor instansi jajaran Pemkab Aceh Singkil, dan terkesan menjadi tempat penumpukan besi tua kenderaan roda empat milik Pemkab setempat yang telah rusak parah.
Padahal, menurut Hendri bila dikelola secara maksimal dan baik didua terminal tersebut ada potensi besar untuk perekonomian masyarakat terutama bagi pedagang kecil.
Dengan begitu sudah seharusnya Pemkab Aceh Singkil melalui instansi terkait mengelola sarana umum ini menjadi sumber PAD dan menjadikan sebagai tempat penghubung atau transit manusia untuk potensi perputaran perekonomian masyarakat mencari nafkah.
"Sudah saatnya Pemkab Aceh Singkil bangun dari mimpi indahnya menata kembali dua terminal besar itu dan menggelolanya secara maksimal dengan menampung sarana publik dan bisnis UMKM," imbuhnya.
Apalagi, dua bangunan besar tersebut berdiri diatas lahan yang luas dan terletak ditengah Kota dalam Kabupaten Aceh Singkil. Hingga sangat berpotensi untuk dikembangkan meningkatkan perekonomian masyarakat,ujar Hendri.
Oleh karena itu, diminta Pemkab Aceh Singkil dengan melakukan kordinasi bersama pihak terkait lainnya dapat mengambil sikap tegas terhadap angkutan umum wajib mengambil dan menurunkan penumpang serta parkir kenderaan roda 4 diterminal. Bukan malah seperti yang terlihat saat ini, banyak armada angkutan parkir di pinggir jalan umum setempat dapat menimbulkan kecelakaan.
Disamping, untuk menata Kota di Kabupaten Aceh Singkil tertib, menghindari kemacetan akibat parkir angkutan umum atau berhenti sembarangan tempat, hal itu juga dapat menumbuhkan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
"Penataan ruang komersil yang tertib dan layak. Pedagang kaki lima usaha kecil seperti, pedagang pakaian dan alat rumah tangga, makanan diberi tempat untuk berusaha," ungkapnya.
Hendri juga menilai, dengan berjalan maksimalnya terminal itu juga dapat dikembangkan menjadi kawasan kuliner malam, tempat nongkrong dan santai malam.
Namun semuanya itu perlu keseriusan, ketegasan Pemkab Aceh Singkil bagaimana membangun komunikasi, sinergisitas dengan berbagai pihak mengembangkan potensi Sumber Daya yang ada.
"Tak sulit jika memang mau dan serius. Tentunya tidak memada dengan pemimpin yang ala kadarnya," tandasnya.
Informasi sebelumnya, Pihak Pemkab Aceh Singkil melalui instansi terkait memang pernah mengaktifkan mengalihkan loket-loket angkutan umum ke lokasi terminal Singkil.
Tapi, hal tersebut hanya berjalan sebentar. Entah apa alasannya, pihak loket kembali beroperasi ditempat semula keluar dari terminal.
Untuk itu diharapkan, perlu adanya penegasan pihak Pemkab Aceh Singkil mengaktifkan terminal secar optimal dan maksimal. Hingga bangunan besar yang telah menghabiskan anggaran tidak sedikit itu sia-sia dan mubajir serta rusak.
Penulis : Erwan
Editor : Mhd Fahmi