22 September 2020 | Dilihat: 47 Kali
Kejari Sabang Stop Kasus Polisi Gadungan Tipu Pacar, Kasus Berakhir Damai
noeh21
 

IJN - Sabang | Kasus pemuda (HG) polisi gadungan yang diduga menipu pacarnya dengan meminta sejumlah uang dihentikan Kejaksaan Negeri Sabang. 

Penyelesaian kasus tersebut oleh Kejaksaan Negeri Sabang dengan menerapkan keadilan restoratif sesuai Peraturan Kejaksaan No. 15 Tahun 2020.

"Hari ini kita melakukan penghentian penuntutan perkara tindak pidana penipuan (Pasal 378 KUHP) sesuai dengan Peraturan Kejaksaan No. 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif." 

Demikian dikatakan Kajari Sabang, Choirun Parapat kepada media Indojayanews.com, Senin 21 September 2020. 

Proses penghentian penuntutan dilakukan di Kejari Sabang dan sebelumnya terdakwa mendekam di penjara dan kini dibebaskan. Pembebasan HG dari Rutan Sabang dihadiri Choirun, Kasi Pidum Muhammad Rizza, Jaksa Fungsional Fickry Abrar Pratama, serta keluarga terdakwa.

Menurut Choirun, kasus dugaan penipuan ini bermula saat HG yang mengaku sebagai polisi berdinas di Polda Aceh berjanji akan menikahi korban. HG meminta sejumlah uang kepada korban senilai Rp 9 juta dengan alasan untuk mengurus pernikahan.

Korban merasa tertipu setelah mengetahui HG bukan polisi, dan pernikahan yang dijanjikan terdakwa juga tidak terlaksana hingga korban akhirnya melaporkan kasus tersebut ke polisi.

"Penyidikan kasus ini ditangani polisi, dan setelah lengkap berkasnya (P-21) terdakwa diserahkan kepada penuntut umum tanggal 4 September,"  terangnya.

Choirun menjelaskan, penghentian penuntutan ini dilakukan berdasarkan Perja No. 15 Tahun 2020 dengan mengedepankan keadilan restoratif yang melibatkan terdakwa, korban, keluarga korban dan perangkat gampong. Alasan utamanya telah ada pemulihan kembali pada keadaan semula dari pihak korban dengan telah ada penggantian kerugian yang dilakukan terdakwa disertai dengan adanya perdamaian antara korban dengan terdakwa.

Lebih lanjut dijelaskan, pelaksanaan penerapan Peraturan Kejaksaan No. 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif ini merupakan penerapan penyelesaian kasus ketiga di Aceh dan yang pertama di Sabang. 


Dan ini juga sebagai bentuk sosialisasi keadilan restoratif yang merupakan suatu jalan untuk menyelesaikan kasus pidana yang melibatkan masyarakat, korban, dan pelaku kejahatan. 

Tujuannya agar tercapai keadilan bagi seluruh pihak sehingga diharapkan terciptanya keadaan yang sama seperti sebelum terjadinya kejahatan dan mencegah terjadinya kejahatan lebih lanjut.

"Tercapainya penghentian penuntutan
 berdasarkan keadilan restoratif tersebut diawali dengan tercapai kesepakatan perdamaian antara terdakwa dengan pihak korban yang difasilitasi oleh Jaksa Kejari Sabang," ujar Choirun.

Penghentian penuntutan diajukan jaksa Kejari Sabang secara berjenjang kepada Kajari Sabang. Selanjutnya diajukan ke Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh hingga mendapat persetujuan untuk dihentikan penuntutannya. Setelah mendapat persetujuan dari Kajati Aceh selanjutnya jaksa melakukan penghentian penuntutan terhadap perkaranya.

"Jadi hari ini terdakwa HG yang sebelumnya mendekam di penjara sekitar dua bulan kita keluarkan atau kita bebaskan," tutupnya.

Penulis : IIN
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com



Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com