04 September 2019 | Dilihat: 254 Kali
Perusahaan Sawit di Indra Makmu Jangan Tutup Mata
Ketua GPIM: Kehadiran Perusahaan Sawit Itu Jelas Menjadi Mala Petaka Bagi Warga
noeh21
Salah satu mobil angkutan hasil tani warga Indra Makmu terperosok di tegah-tegah jembatan saat melintas
 

IJN - Aceh Timur | Sejumlah jembatan darurat di Jalan Alue Ie Mirah - Julok semakin hari semakin rusak parah. Jembatan yang hampir ambruk dan renggang tersebut kerap menelan korban jiwa.
 
Akibatnya, sejumlah angkutan hasil tani warga dan mobil pribadi saat melintas kerap terperosok di tegah-tegah jembatan itu, bahkah kendaraa roda dua juga sering terjatuh.
 
Seperti yang terjadi di Desa Seneubok Baro, kecamatan Indra Makmu kabupaten Aceh Timur, Selasa (03/09) kemarin, sejumlah mobil pengangkut hasil tani warga terperosok di jembatan penghubung antara kecamatan Indra Makmu - Julok itu.
 
Menurut pengendara yang dijumpai awak media ini, kondisi jembatan penghubung dua kecamatan itu telah lama keropos dan mengalami kerusakan, namun hingga kini tidak ada pihak yang perduli dan bersedia memperbaikinya, terutama pihak perkebunan kepala sawit yang tiap hari mondar mandir mengangkut hasil kebun miliknya.
 
Yusrizzal salah seorang yang melintas jembatan tersebut kepada awak media mengatakan, apabila tidak ada tindakan perbaikan, kerangka jembatan dalam waktu dekat akan runtuh, melihat tiap hari puluhan truk pengangkut sawit milik PTPN I JRU dan PTPN III JRS, serta PT Tualang Raya yang melintas over tonase.
 
“Kami meminta perusahaan perkebunan itu segera membantu memperbaiki kerusakan jembatan, karena tiap hari dan malam puluhan truk milik mereka kerap melintas bahkan melebihi tonase, dan hal itu berlangsung puluhan tahun. Akibatnya yang di rugikan selalu masyarakat." kata Yus.
 
Sementara itu, Ketua Gerakan Pemuda Indra Makmu (GPIM) Romi Syahputra kepada Indojayanews.com, Rabu 4 Agustus 2019 mengatakan, ia meminta sejumlah Perusahaan Perkebunan Sawit di Indra Makmu jangan tutup mata melihat kerusakan jembatan yang telah mengakibatkan keresahan bagi warga.
 
"Seharusnya para perusahaan tersebut sadar diri atas perbuatan angkutan mereka hingga berdampak pada kesejahtraan masyarakat," ujar Romi.
 
"Tanpa diminta pun, perusahaan diharapkan cepat tanggap ketika mengetahui ada jalan dan jembatan yang rusak dan segera memperbaikinya. Toh, jalan dan jembatan itu tiap hari di laluinya," kata Romi.
 
Menurut Romi, keberadaan jalan dan jembatan itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk kegiatan perekonomian dan aktivitas sehari-hari. 
 
"Jika kerusakannya tidak ditangani dengan cepat maka dampaknya sangat luas, di antaranya mengganggu kegiatan ekonomi masyarakat serta aktivitas rutin menjadi terhambat," ungkap Romi.
 
GPIM mengingatkan, perusahaan memiliki kewajiban menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
 
"Seharusnya perusahaan membantu pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteran masyarakat, khususnya di sekitar perusahaan, bukan malah sebaliknya tutup mata," kata Ketua GPIM dengan nada keras.
 
Romi menilai, kehadiran perusahaan sawit itu jelas menjadi mala petaka bagi warga, selain dapat merusakan jalan dan jembatan, juga dapat mengancam kesehatan warga dari debu yang bertaburan akibat lintas truk mereka. 
 
Bahkan, kata Romi, debit air di sekitar perusahaan sangat berkurang, sehingga para petani terancam turun sawah tahun ini.
 
GPIM mengharapkan pemerintah terkait di kabupaten atau Provinsi agar segera turun meninjau terkait tonase dan juga lingkungan yang diduga telah di rusak perusaan tersebut.
 
Hingga berita ini diterbitkan, awak media belum dapat mengonfirmasi pihak perusahaan.
 
Penulis : Mhd Fahmi
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com



Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com