04 Oktober 2019 | Dilihat: 506 Kali
Menelusuri Makam Syekh Abdul Rajak Ditengah Hutan Aceh Singkil
noeh21
Wartawan IJN saat mengunjungi salah seorang keturunan Syekh Abdul Rajak, Siti Nurbainah dikediamannya, dan lokasi makam yang terletak diSingkil Lama, yang masuk dalam kawasan Rawa Singkil.
 

IJN - Aceh Singkil | Siang itu dengan menggunakan perahu kecil bermesin (robin), Personil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil, Bidang Kebudayaan dan pemuda bersama dengan wartawan Indojayanews, menelusuri alur sungai Singkil menuju lokasi tempat Makam Syekh Abdul Rajak yang diyakini salah seorang ulama besar setempat.
 
Tidak semua orang mengetahui adanya kompleks makam salah satu ulama besar Singkil yang berada ditengah hutan lindung, area kawasan rawa Singkil.
 
Dalam perjalanan yang dimulai sekitar Pukul 11.30 wib, Rabu 03 Oktober 2019, dari tangkahan (tempat bersandar perahu), dibawah jembatan pengkolan, Kampung Ujung, Singkil, rombongan butuh waktu sekira satu jam untuk sampai tiba ke kawasan situs bersejarah di Singkil Lama.
 
Bergerak melewati sungai besar dan kecil yang dikiri kanan dipenuhi pohon nipah dan bakau, dan terlihat beberapa ekor anak buaya sedang berjemur dipinggir sungai.
 
Sebelumnya, jalur sungai kecil berdiameter kurang lebih 5 meter menuju lokasi makam tidak begitu sulit dilalui seperti saat ini yang terlihat mulai sempit tertutup oleh berbatangan nipah. Sehingga sulit dilalui, dan harus mencincang dahan-dahan pelepah pohon nipah yang menghalangi menggunakan parang. Bahkan saat hendak sampai kelokasi makam kurang lebih 100 meter, rombongan pun harus turun dari perahu berjalan kaki melintasi air dan lumpur terkadang terpuruk sebatas paha orang dewasa.
 
Diareal makam, yang informasinya dulu merupakan Tempat Pemakaman Umum (TPU) masyarakat, juga ada makam sejumlah tokoh masa lampau.
 
"Namun sayangnya, karena ditumbuhi semak belukar, lokasi makam terlihat seperti hutan belantara," ucap Salah seorang Pemuda Singkil, Mufkirul yang saat itu ikut serta bersama rombongan.
 
Kecuali lokasi Makam Syekh Abdul Rajak, yang hanya terlihat bersih dan berdiri pondok permanen, yang kabarnya dibangun melalui swadaya masyarakat.
 
Padahal, apabila sedikit saja diberikan sentuhan konservasi, penataan, dan promosi ke luar daerah, lokasi itu dapat menjadi wisata religi situs sejarah tersendiri di Singkil, yang akan membantu pengembangan Aceh Singkil ke depan sebagai tujuan wisata. Tapi apa hendak dikata, tidak hanya itu beberapa situs sejarah Singkil yang amat penting untuk masa depan pengetahuan sejarah Islam Nusantara seakan luput dari perhatian.
 
Ditambah lagi, salah satu lokasi makam tokoh besar Islam Nusantara Syekh Abdurrauf As Singkily berasal dari daerah setempat, pun yang berada di Permukiman warga Desa Kilangan terlihat seakan luput dari perhatian pemerintah.
 
"Begitu juga peninggalan Belanda yang masih banyak ditemukan di Singkil justru terlihat terbengkalai. Seperti, lokasi situs sejarah makam kuburan Belanda, di Pulo Sarok, dan sumur bor peninggalan Belanda, di Desa Pasar, terlihat kondisinya sangat memperihatinkan," ujarnya.
 
Sementara Kabid Budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil, M. Najur didampingi stafnya mengakui, baru mengetahui lokasi makam Syekh Abdul Rajak yang sudah terdaftar di Kementerian Pendididikan dan Kebudayaan RI.
Namun, untuk SK penetapannya dari Bupati Aceh Singkil yang belum ada.
 
"Meski pihaknya sudah melakukan pengusulan nya", ungkapnya.
 
Selanjutnya, Najur mengakui untuk memugar dan mengembalikan situs sejarah cagar budaya sisa peradaban Kabupaten Aceh Singkil, butuh kerja ekstra.
 
"Maka untuk itu, pihaknya terlebih dulu akan melakukan pendataan situs-situs sejarah cagar budaya setempat agar dapat diusulkan penetapannya," ujarnya. 
 
Disamping itu, saat mengunjungi lokasi yang kabarnya tempat permukiman penduduk dulunya tinggal, sekira dua puluh menit perjalanan dari lokasi TPU, Singkil Lama, dengan melihat dan menemukan bekas pondasi rumah dan pecahan alat perabotan rumah tangga, mengatakan bahwa tempat tersebut memang pernah ada peradaban kehidupan manusia.
 
Keesokan harinya wartawan IJN bersama temannya melakukan penelusuran lanjutan didampingi Warga Desa Kilangan, Singkil, Afnal menemui salah seorang yang mengaku buyut dari keturunan Syekh Abdul Rajak, yang juga warga desa setempat.
 
Setelah bertemu dengan keturunan Syekh Abdul Rajak, Siti Nurbainah yang sudah berusia sekitar 100, dikediamannya, Desa Kilangan, menceritakan sedikit silsilah keturunan dan perjalanan beliau dimasa hidupnya.
 
Siti Nurbainah awalnya mengungkapkan silsilah keturunan Syekh Abdul Rajak, penganut tarekat Syattariah dan seorang guru agama Islam di sana, dimasa hidupnya yang menurut catatan Kemendikbud RI, wafat 1213 M/636 H, memiliki anak keturunan pertamanya Imam Jalaluddin yang memiliki anak Asnanudin.
 
Selanjutnya, Asnanudin, merupakan orang tua dari Siti Nurbainah, memiliki 2 orang anak laki-laki lainnya yakni, Nasrudin dan Muktarudin.
 
Menurut Siti Nurbainah, unyangnya Syekh Abdul Rajak, bermarga Tanjung, berasal dari Minang Kabau, Pagaruyung, pernah berguru dan menuntut Ilmu agama dengan Teungku Abdul Manaf dan Teungku Susuh, orang nata, Sumatra Utara.
 
Dimasa hidupnya, Syekh Abdul Rajak, juga termasuk salah seorang ulama besar Singkil penyebar Agama Islam dan memiliki murid hingga kesejumlah daerah.
 
Kabarnya, selagi hidupnya Syekh Abdul Rajak pernah berpesan, apabila beliau wafat agar di kuburkan ditanah asalnya kawasan Singkil Lama.
Sehingga saat beliau wafat, sanak saudara dan muridnya memakamkan Syekh Abdul Rajak, di Singkil Lama, yang kala itu masyarakat sudah mulai pindah meninggalkan lokasi tersebut ke kawasan permukiman saat ini.
 
Dengan begitu, diharapkan Pemkab Aceh Singkil agar peka terhadap situs-situs peninggalan sejarah setempat. Karena selain dapat menjadikan Singkil daerah industri sejarah budaya, juga dapat memajukan Kabupaten Aceh Singkil melalui sektor cagar budaya.
 
"Karena situs peninggalan sejarah atau cagar budaya merupakan suatu jati diri daerah," harap warga.
 
Penulis : Erwan
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com



Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com