IJN - Bireuen | Ketua Umum Forum DAS Krueng Peusangan, Suhaimi Hamid, menegaskan bahwa upaya pelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan membutuhkan waktu panjang dan tidak bisa dilakukan secara instan.
Hal ini sebagaimana disampaikan kepada IJN, Jumat, 6 Februari 2026 di Matang lumpang Dua.
Menurutnya, apa yang terjadi hari ini (banjir dan tanah longsor) bukanlah sesuatu yang biasa. Pasalnya, dampak dari bencana ini akan dirasakan dalam jangka waktu yang sangat lama. Untuk pelestarian DAS dan ini perlu dilakukan upaya upaya pelestarian DAS dan rehabilitasi Satuan Wilayah Sungai (SWS).
“Pelestarian DAS itu prosesnya bisa mencapai 20 tahun baru kelihatan hasilnya. Jadi kondisi hari ini adalah sesuatu yang normal akibat kerusakan yang sudah berlangsung lama,” kata Suhaimi.
Ia menjelaskan, pelestarian DAS harus ada area serapan air yang memadai agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Hal ini berupa penanaman pohon atau reboisasi di sepanjang DAS.
“Rehabilitasi sungai tetap perlu dilakukan, dan harus dibarengi dengan rehabilitasi DAS. Menanam pohon, membangun tanggul, lalu menanam kembali vegetasi di sepanjang bantaran sungai,” ujarnya.
“Untuk melihat hasilnya, ini butuh waktu yang lama. Tidak bisa instan,” tambahnya.
Suhaimi kembali menegaskan bahwa solusi jangka panjang terhadap persoalan banjir dan kerusakan lingkungan bukan hanya pada sungai, tetapi pada pengelolaan DAS secara terpadu dan berkelanjutan, melibatkan semua pihak terkait.
Karenanya, kegiatan rehabilitasi SAW dan Pelestarian DAS perlu dilakukan secara menyeluruh dan kontinue. "Kita harus menjaga agar air sungai itu tetap bersih, jangan keruh," jelas pria yang akrab di sapa Abu Suhoi.
Penulis : Amiruddin
Editor : Muhammad Zairin