04 Jun 2026 | Dilihat: 25 Kali

Pemkab Bireuen dan Mitra Kemanusiaan Perkuat Ketangguhan Masyarakat Pascabencana Lewat Lokakarya ARISE

noeh21
Bupati Bireuen, Ir. H. Mukhlis, ST menerima penghargaan Wajar Tanpa Pengecualian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) dari Kepala BPK Perwakilan Aceh, Andri Yogama. Foto : IJN / Ist.
      
IJN - Bireuen | Upaya memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana terus dilakukan di Kabupaten Bireuen. Hal itu ditandai dengan pelaksanaan Lokakarya Refleksi dan Pembelajaran Proyek ARISE (Aceh Relief and Integrated Support in Emergencies) yang dibuka langsung oleh Wakil Bupati Bireuen di Aula Hotel Fajar, Kamis, 4 Juni 2026.
 
Kegiatan yang digelar oleh Yayasan Foundasi Hidup (FH) Indonesia bersama YAKKUM Emergency Unit (YEU) tersebut menjadi momentum evaluasi sekaligus pembelajaran atas berbagai program pemulihan yang telah dijalankan pascabencana banjir hidrometeorologi dan tanah longsor yang melanda Bireuen pada akhir tahun 2025.
 
Lokakarya ini dihadiri unsur Forkopimda, Kepala Bank Aceh Cabang Bireuen, Ketua TP-PKK Kabupaten Bireuen, para kepala SKPK terkait, camat, keuchik gampong dampingan, serta berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses tanggap darurat dan pemulihan.
 
Direktur Nasional Yayasan Foundasi Hidup, Effendy Aritonang, menjelaskan, Proyek ARISE dirancang untuk membantu masyarakat miskin dan kelompok rentan yang terdampak bencana agar dapat segera bangkit dan kembali menjalani kehidupan secara mandiri.
 
“Program ini hadir sebagai respons cepat terhadap bencana yang terjadi di penghujung tahun 2025. Dengan dukungan berbagai pihak, masyarakat terdampak memperoleh bantuan yang memanfaatkan potensi dan sumber daya lokal,” kata dia.
 
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bireuen, Razuardi menyampaikan apresiasi kepada FH Indonesia dan YEU yang telah menunjukkan kepedulian dan komitmen nyata dalam mendampingi masyarakat selama masa pemulihan pascabencana.
 
Menurutnya, lokakarya tersebut bukan sekadar forum evaluasi, tetapi juga ruang kolaborasi untuk merumuskan langkah-langkah strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa depan.
 
“Melalui forum partisipatif ini, saya berharap seluruh pemangku kepentingan mulai dari tingkat gampong, kecamatan hingga kabupaten dapat saling berbagi pengalaman, praktik baik, dan pelajaran berharga yang diperoleh selama proses penanganan bencana,” kata Wakil Bupati.
 
Ia menegaskan, pengalaman menghadapi bencana harus menjadi modal penting dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih tangguh dan berbasis masyarakat.
 
Hasil refleksi dan rekomendasi yang lahir dari lokakarya ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi FH Indonesia dan YEU dalam pengembangan program ke depan, sekaligus menjadi masukan berharga bagi Pemerintah Kabupaten Bireuen dalam memperkuat kebijakan mitigasi, kesiapsiagaan, dan respons kebencanaan.
 
Wakil Bupati juga menyoroti pentingnya menjaga sinergi yang selama ini terbangun antara pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, sektor perbankan, akademisi, media, dan masyarakat.
 
“Kolaborasi yang telah terjalin selama masa tanggap darurat hingga pemulihan harus terus dipertahankan. Ketangguhan daerah dalam menghadapi bencana hanya dapat terwujud melalui kerja sama seluruh elemen,” tegasnya.
 
Sebagai informasi, Proyek ARISE mulai dilaksanakan sejak 17 Desember 2025 dengan fokus pada bantuan non-tunai multiguna bagi masyarakat terdampak di Kecamatan Peusangan dan Jeumpa, serta dukungan sektor air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) di Kecamatan Kuta Blang. Program tersebut dijadwalkan berakhir pada 16 Juni 2026.
 
Melalui program ini, ratusan warga terdampak bencana memperoleh dukungan yang membantu percepatan pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi mereka, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana di masa mendatang.

 
Penulis | Amiruddin 
Editor | Muhammad Zairin
Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas