12 Desember 2018 | Dilihat: 436 Kali
Ridwanto Bantah Terhadap Pemberitaan Tentang Penangkapan Yang Dilakukan Oleh Sat Narkoba Polres Simeulue
noeh21
 

IJN - Simeulue | Koordinator Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Simeulue, Ridwanto yang merupakan abang kandung dari tersangka berinisial AR (32) membantah bahwa AR memiliki Narkoba seperti yang beritakan.

Ridwanto menjelaskan kepada Indojayanews.com, adik kandungnya (AR) tidak memiliki narkoba, dan saat pengeledahan dirinya mengaku ada di lokasi serta melihat langsung kejadian tersebut. Namun sudah ditetapkan tersangka pihak kepolisian Simeulue, Ridwanto tetap membantah bahwa tersangka AR tidak memiliki narkoba paket sabu dari adik kandungnya seperti yang diberitakan sebelumnya.

“Ya, kami saksikan sendiri saat pengeledahan tidak ada barang bukti dari tanggan korban (AR--red),” katanya, kepada IJN melalui via aplikasi WhastApp, Rabu 12 Desember 2018.

Ridwanto menyesalkan saat pengeledahan yang dipimpin Kasat Narkoba IPDA JH. Sialagan tidak ada di lokasi saat penangkapan AR, Ia menjelaskan, dalam keterangannya bahwa kejadian penangkapan inisial (AR) tersebut benar terjadi pada hari Minggu tanggal 09 Desember 2018 sekitar pukul 20.30 WIB bertempat di Desa Nancala namun barang bukti penangkapan tersebut bukan seperti yang diberitakan.
 
Baca Juga : Polres Simeulue Berhasil Amankan Dua Pelaku Penyalahgunaan Narkotika

Dan ia tegaskan bahwa tidak ada barang bukti yang disita berupa satu (1) buah plastik bening berisi jenis sabu dengan berat 0.06 gram dan itu disaksikan puluhan orang yang datang melihat, barang bukti yang disita tersebut berupa kertas yang dibungkus dengan lakban kuning dengan ukuran sangat kecil sekali, katanya.

Bahkan sangat disayangkan tindakan yang telah diambil dan dilakukan oleh pihak Sat Narkoba Polres Simeulue dengan melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap korban sebelum adanya penggeledahan terhadap korban dan sepeda motor milik korban, menurutnya ini adalah sebuah tindakan sewenang-wenang, tandasnya.

Ridwanto menambahkan dalam penangkapan tersebut ya menilai adanya kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan dan tidak sesuai dengan prinsip dan standar Hak Asasi Manusia (HAM) yang seharusnya kita junjung secara bersama, iya menyesalkan bahwa dalam penangkapan tersebut tidak disertai surat penangkapan yang bersangkutan melainkan Surat Perintah Tugas Nomor : Sprin. Gas/11/XI/Res 4.2/2018 dengan masa berlakunya sejak tanggal 01 November s/d 30 November 2018.

Kemudian, lanjutnya adanya tindakan kekerasan terhadap korban secara tidak manusiawi sebelum adanya pembuktian secara sah, padahal penangkapan tersebut telah ditentukan dalam KUHP (hal. 157) dan tujuan penangkapan tersebut juga telah diatur dalam pasal 1 angka 20 Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang KUHP.

“Dan yang lebih aneh lagi kami pihak keluarga tidak dibenarkan untuk bisa melihat korban di ruang tahanan Polres Simeulue sejak kejadian tersebut, dengan alasan kepentingan penyidikan, namun kami menaruh kecurigaan kemungkinan besar agar kami tidak mengetahui dan melihat hasil tindakan kekerasan fisik yang telah dilakukan terhadap korban,” pungkasnya.

“Kami selaku keluarga korban telah menyampaikan secara langsung keberatan menerima tindakan penangkapan tersebut secara lisan kepada Kasat Narkoba Polres Simeulue IPDA JH Sialagan, yang saat kejadian tidak ikut dalam penangkapan meskipun dalam pemberitaan tersebut penangkapan dibawah pimpinan beliau, hal ini lagi-lagi pembohongan, dan secara terpisah kami juga menyampaikan kepada Wakasat Narkoba diruang kerjanya sekaligus meminta kepada beliau agar kiranya Hak-Hak nya selaku Korban benar-benar dapat dipenuhi termasuk di dalamnya, hak mendapatkan bantuan hukum serta tanpa tekanan dan kekerasan fisik maupun psikis sebagaimana telah diatur dalam pasal 52 KUHP,” harapnya.
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com



Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com