19 Juli 2019 | Dilihat: 240 Kali
Sidak Tenun Majalaya KS Tex, DanSektor 3 Citarum Harum: Satu Bulan Diberikan Waktu Benahi IPAL
noeh21
DanSektor 3 Citarum Harum, Kol. Inf. Parulian Marpaung di pabrik tekstil Tenun Majalaya KS Tex 18/7/2019
 

IndoJayaNews | Kolonel Infantri Parulian Marpaung, DanSektor 3 Satgas Citarum Harum, melakukan sidak (inspeksi mendadak) pada Kamis, 18 Juli 2019 ke daerah binaannya di Desa Tanjungwangi Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di wilayah ini ia melakukan sidak ke parrik tekstil yang termasuk kelompok  pabrik Tenun Majalaya KS Tex. Hasilnya, dari kunjungan ini ia memberikan peringatan satu bulan membenahi performa IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) ke pemilik pabrik ini.

“Yakinkan, air buangan limbah pabrik tenun atau tekstil ini aman atau ramah lingkungan. Sebelum dibuang ke out let, air itu harus yakin aman bagi mahluk hidup ikan. Biasanya, ikan mas atau koi. Saya beri waktu satu bulan sejak sekarang,” terang Parulian Marpaung kepada para jurnalis yang ikut sera dalam sidak ini.  

Dalam kunjungan kali ini, DanSektor 3 Satgas Citarum Harum tiba di salah satu dari empat pabrik tekstil di wilayah Sektor 3, diterima salah satu staf KS Tex, H. Sofyan. Menurut pengakuan Sofyan yang merupakan kerabat dari perusahaan keluarga KS Tex, sehari-hari ia ditugasi mengurus mekanisme IPAL di pabrik ini, termasuk penanganan kotoran ternak sapi yang semuanya dijadikan pupuk pertanian.

“Luasnya sekitar 10 hektar, ada 60 karyawan, kapasitas limbah per hari rata-rata 15 – 30 M3. Soal limbah ini pun tak ajeg, tergantung orderan. Limbah diolah memakai kimia, tiga tahun lalu disarankan DLH (Kab. Bandung) memakai tanaman eceng gondok. Seperti inilah”

Tentu saja penjelasan Sofyan ini dimata DanSektor 3, perihal pengolahan limbah seperti ini, masih mengundang banyak pertanyaan. Secara kasat mata, limbah yang dialirkan melalui bak penampungan seluas 10 X 20 M2, yang diisi oleh tanaman eceng gondok, efektivitasnya patut kita pertanyakan. Terlihat di lapangan, langsung saja ‘buangan limbah’ disalurkan ke sawah.

Bak indikator yang berisi ikan mas atau koi sebelum limbah itu di buang ke perairan umum, tak terlihat di sini. Pengakuan Sofyan, katanya belum pernah ada komplen dari warga setempat.

“Inilah yang jadi pertanyaan kita. Saya lihat air yang dibuang melalui out let langsung ke sawah, kasat mata masih berwarna agak kehitam-hitaman. Sayangnya, semua data (administrasi) yang katanya setiap bulan selalu dicek DLH, adanya di kantor. Kantornya, tutup hari ini karena pemiliknya H. Ade dan H. Budi sedang ke Jakarta,” ungkap Parulian Marpaung yang terlihat serba penasaran dengan kondisi pabrik tekstil yang disatukan dengan peternakan sapi.

“Benar Pak, H. Ade dan H. Budi sedang mengurus orderan ke Jakarta,” timpal Sofyan yang berjanji akan memenuhi semua hal yang disarankan Parulian Marpaung –“Dalam satu bulan semua akan beres. Silahkan dari Satgas Citarum Harum mengawasi kami. Kami dukung sepenuhnya program Citarum Harum.” 

Model Pembinaan

Dalam kesempatan berbeda kepada pewarta, Parulian Marpaung menyatakan pendekatannya ke para pemilik pabrik tekstil atau penghasil limbah lainnya di wilayahnya yang mayoritas merupakan daerah pertanian, pada tahap awal ini akan mengutamakan model persuasif:

”Penyadaran pentingnya ekosistem yang sehat dan seimbang dalam segala kegiatan industri khususnya,perlu dimiliki oleh penduduk segala usia di Sektor 3 ini. Pendekatannya, bertahap, harapannya revitalisasi sungai Citarum bisa lebih cepat dari yang dicanangkan 7 tahun itu,” tutupnya sambil menekankan – “Penting melakukan komunikasi sosial ke generasi muda di wilayah ini. Makanya, terjadwal cukup padat sosialisasi program Citarum Harum ke beberapa sekolah dan kelompok-kelompok masyarakat.” (Harri Safiari)

Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com



Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com