26 Juli 2019 | Dilihat: 373 Kali
Terkait Kadistanbun Aceh lapor Keuchik Munirwan, Forkab Aceh Angkat Bicara
noeh21
Ketua Umum DPP Forkab Aceh, Polem Muda Ahmad Yani.
 

IJN - Banda Aceh | Ketua Umum DPP FORKAB Aceh, Polem Muda Ahmad Yani atau yang akrab di sapa Polem mengajak masyarakat untuk menyikapi kasus Geucik Munirwan secara objektif dan jangan sampai dipolitisir.
 
Polem mengingatkan masyarakat supaya kritis pada setiap pemberitaan yang viral dan berkembang luas di tengah masyarakat.
 
Menurutnya, kemajuan tekhnologi dan perkembangan IT dan Medsos, masyarakat kian cepat disungguhi dan kaget tiba-tiba kasus kecil dan sepele bisa cepat berkembang tiba-tiba menjadi besar, begitu juga sebaliknya kasus besar bisa mendadak kecil di tengah masyarakat.
 
Oleh karenanya, upaya bersikap kritis sangat diperlukan dan Polem juga menghimbau masyarakat supaya kritis dan objektif melihat isu di pemberitaan secara berimbang tanpa memihak dan mudah terprovokasi sehingga menimbulkan kebencian pada seseorang secara berlebihan. Pesan ini mengingatkan Polem pada satu pesan Qu’an yang artinya.
 
“Dan Janganlah sekali-kali kebencian kalian atas sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil, berlaku adillah, karena adil lebih dekat kepada taqwa," ungkap Polem
 
"Terkait kasus Kadistanbun Aceh yang melaporkan Geucik Munirwan terduga penjualan benih padi IF8 tanpa lebel atau sertifikat benih, hal itu tentunya perlu melihat duduk perkara sesungguhnya seperti apa?," terang Polem.
 
Menurut Polem, Penyebaran dan penjualan benih apapun bentuknya tanpa ada lebel atau sertifikat benih tentu menyalahi prosedural dan terindikasi pelanggaran terhadap undang-undang. 
 
Aktivitas kerja pak Keuchik menurut Polem sudah diluar kepatutan dan tidak etis serta melampaui hak dan kapasitasnya. Apalagi hasil laporan informasi yang forkab dapatkan pihak kepolisian telah menemukan bertonton-ton barang bukti benih yang tidak tersertifikasi dan diduga milik PT Bumides Nisami milik Keuchik Munirwan. 
 
Bahkan, dari informasi yang berkembang kuat dugaan jika penjualan benih IF8 masuk keuntungannya masuk ke rekening PT Bumides Milik Tgk Munirwan, bukan masuk PAD Gampong. Maka oleh karenanya, Polem minta kasus ini harus dilihat secara objektif dan tidak dipolitisis terlalu jauh.
 
Menurut hemat Polem, sikap bijaksana Kadistanbun Aceh yang mencabut gugatan dan menyelesaikan kasus ini secara baik-baik merupakan sikap yang harus kita apresiasi setinggi-tinggi. 
 
"Karena kasus ini jika dipaksakan terus dilanjutkan tidak tertutup kemungkinan terkena dalam jeratan hukum atau delik pidana yang malah tidak baik untuk pak Keuchik Munirwan itu sendiri," tuturnya.
 
Untuk itu, Polem selaku ketua DPP Forkab Aceh meminta semua pihak belajar, baik instansi dinas terkait maupun Keuchik Tgk Munirwan itu sendiri atas atas aktivitatas kerja yang kita nilai lebih mendahului aturan main dan mengambil ranah yang tidak menjadi tupoksinya. 
 
Dasar pertimbangan inilah, Polem mengajak masyarakat agar lebih bersikap kiritis dan objektif serta berharap kasus ini jangan sampai dipolitisir karena akan menghabiskan energy masyarakat terkosentrasi mendiskusikan hal yang dianggap sudah selesai. 
 
Kalaupun mencari kabing hitam dari kasus perkara ini, bagi polem juga sangat merugikan kita semua karena hal semacam ini seharusnya cukup diselesaikan secara bijaksana dan bisa menjadi bahan renungan untuk semua pihak.
 
Untuk kedepannya, polem mengingatkan Aceh perlu banyak belajar dari daerah lain dari sisi mengelola isu dan opini public. Tidak setiap isu harus digoreng dan dikonsumsi public.
 
Akan tetapi, masyarakat luas harus di edukasi dan diberi pemahaman akan opini yang lebih produktif pada isu yang lebih fundamental bagi mempercepat lajunya pertumbuhan ekonomi, dan mengejar ketinggalan di segala sector pertumbuhan di Aceh.
 
"Tanpa dilakukan demikian, maka Aceh mustahil akan maju dan malah larut pada hal-hal yang sepele dan remeh temeh yang malah akan merugikan rakyat kita semua," demikian ungkap Polem selaku Ketum DPP Forkab Aceh.
 
Editor : Mhd Fahmi
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com



Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com