24 Mei 2018 | Dilihat: 182 Kali
Benarkah Ekonomi RI Sudah Lampu Kuning?
noeh21
 

Jakarta - Ekonomi Indonesia masih jauh dari krisis. Namun dari data-data ekonomi yang muncul beberapa pihak menilai ekonomi RI sudah lampu kuning. Benarkah demikian?

Staf Khusus Presiden Ahmad Erani Yustika menegaskan perekonomian Indonesia masih dalam koridor yang baik. Dia juga menegaskan ekonomi Indonesia masih jauh dari kata krisis.

Erani menjelaskan pemerintah dalam melakukan pembangunan ekomoni fokus pada 3 komitmen besar. Pertama pemerintah membangun perekonomian bukan hanya jangka pendek 5 tahun tapi sampai 30 tahun ke depan.
Hal itu bisa dilihat dari pembangunan infrastruktur yang marak dilakukan oleh pemerintah. Politik anggaran pemerintah juga tertuju pada penguatan infrastruktur.

"Sekarang bisa dicek dengan segala macam pembangunan ranking index infrastruktur kita naik luar biasa. Tentu saja apa yang bisa diperoleh infrastruktur dalam jangka panjang," ujarnya, Kamis (24/5/2018).

Komitmen pemerintah yang kedua, lanjut Erani, adalah menurunkan jurang antara si kaya dan si miskin alias gini ratio. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh gini ratio sampai September 2017 sebesar 0,391. Angka itu turun 0,003 poin jika dibandingkan periode yang sama di tahun 2016, dan turun 0,002 poin jika dibandingkan Maret 2017.

"Gini ratio kita sebelum 2015 itu selalu meningkat, contoh pada 2004 angkanya 0,34 lalu di 2014 0,43. Nah itu perlahan dicoba diperbaiki dengan aneka kebijakan," terangnya.

Salah satu yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan gini ratio dengan melakukan pembangunan ekonomi dari wilayah pinggiran. Terbukti dari dana desa yang telah dikucurkan mencapai Rp 187 triliun.

Selain itu pemerintah juga menyiapkan bantalan bantuan bagi masyarakat miskin melalui kartu-kartu saktinya. "Kemudian penambahan aset dan akses bagi warga paling miskin seperti petani dan nelayan. Ada reforma agraria memberikan lahan bagi mereka. Pemerintah juga sudah menghentikan pemberian lahan kepada perusahaan," tambahnya.

Fokus ketiga adalah menyiapkan instrumen untuk mengendalikan harga-harga pangan dengan cepat. Caranya dengan menyiapkan sistem agar bisa memantau ketersediaan pasokan.

Hasilnya, kata Erani, inflasi Indonesia masih bisa terjaga di bawah 4%. Tahun lalu bahwa inflasi hanya mencapai 3,61%. "Itu yang terendah inflasi ada di bawah 4%. Selama ini inflasi 6% saja kita sudah bersyukur," ujarnya.

Menurut Erani strategi itu cukup berhasil menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebab ekonomi Indonesia masih tumbuh dengan rata-rata 5%. Sementara untuk pelemahan nilai tukar, Erani memandang banyak nilai tukar mata uang negara lain yang melemah jauh lebih parah akibat dolar AS menguat. Pelemahan rupiah menurutnya masih dalam tahap wajar.
"Argentina itu pelemahan nilai tukarnya sampai 23%. Begitu juga Brazil dan Peru. India yang dianggap negara ekonomi terkuat setelah China mata uangnya melemah 5,8%, Indonesia hanya 3,7%," terangnya.

Sedangkan tentang defisit neraca perdagangan yang melebar pada April 2018 sebesar US$ 1,63 miliar, menurutnya itu hanya siklus. Biasanya pada awal tahun banyak perusahaan yang belanja bahan baku produksinya dari luar negeri untuk 6 bulan sampai 1 tahun ke depan.

Hal itu membuat impor Indonesia membengkak, sehingga defisit neraca perdagangan terbilang besar. Namun dia percaya defisit neraca perdagangan RI di kuartal selanjutnya akan mengecil. Sebab industri tidak akan melakukan impor bahan baku sebesar di awal tahun.
 
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com