11 April 2021 | Dilihat: 153 Kali
Semangat Hidup Para Ibu Rumah Tangga Dari Dapur BATA
noeh21
 

Karya (Mahasiswa Ekonomi Syariah kpm-ks IAIN Langsa 2021)


Pengembangan sistem ekonomi rakyat yang bertumpu pada mekanisme pasar berbasis sumber daya alam dan manusia yang produktif dan mandiri. Industri kecil memiliki peranan yang besar dalam mendorong pembangunan ekonomi di daerah khusunya pedesaan yang meningkatkan peluang kerja. Dilihat dari karakteristik sosial ekonomi bangsa Indonesia saat ini.

Industri kecil merupakan kekuatan dalam mengwujudkan pembangunan, salah satunya adalah industri kecil batu bata dalam meningkatkan pendapatan masyarkat sekitar kawasan dapur bata Aluebeurawe khususnya para ibu rumah tangga yang membutuhkan pemasukan tambahan untuk kebutuhan sehari-hari.

Kebutuhan manusia akan batu bata sangat lah penting terhadap kegiatan masyarakat secara langsung sehingga permintaan batu bata akan meningkat. Keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal atau belum sepenuhnya terpenuhi membuat para ibu rumah tangga sekitar dapur batu bata menggantungkan hidupnya dengan bekerja paruh waktu di tempat tersebut untuk membantu perekonomian.

Anak pemilik usaha dapur batu bata Desa Alueberawe Kecamatan Langsa Kota, Arinti (32) mengatakan, bagi laki-laki untuk pendapatan segitu belum mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kalau dilihat, seharusnya laki-laki yang cocok melakukan pekerjaan ini seperti mengangkat tanah, menggunakan cangkul dan lainnya.

"Tetapi disekitar dapur bata ini yang lebih tertarik melakukan pekerjaan tersebut yaitu para ibu rumah tangga. karena bagi mereka bekerja disini dapat menambah penghasilan untuk kebutuhan keluarga ya sehari-hari. Bahkan mereka bekerja dengan senang hati, dan atas kemauan sendiri, ada juga diantara mereka yang menyisihkan gajinya untuk simpanan,” kata Arinti anak pemilik dapur batu bata tersebut.

Dari hasil observasi yang kami lakukan ada sekitar 6 orang pekerja perempuan yang rata-rata sudah bekerja kurang lebih 5 tahun, dan dapur batu bata ini sudah beroperasi sejak 2004 setelah terjadinya tsunami. Batu bata berbahan baku tanah liat diproses dengan cukup sederhana.

Pengolahan dapur batu bata disini dilakukan dengan dua cara yang pertama masih manual tetapi sekarang sudah tidak beroperasi lagi dan kedua sudah lebih modern dengan menggunakan mesin cetak. Kalau manual proses pembuatannya membutuhkan waktu yang lama dan menghasilkan 1000 batu bata perhari sedangkan dengan mesin cetak menghasilkan 4000 batu bata perhari.

Satu tungku dapur batu bata dapat memuat 40.000 batu bata dan selama 10 hari proses pembakaran. Saat musim penghujan permintaan batu bata meningkat dan kebutuhan konsumen lebih banyak karena batu bata tidak bisa langsung dijemur dibawah sinar matahari dan harus diangin-anginkan terlebih dahulu.

Musim hujan membuat batu bata sulit untuk kering. Sebab, jika langsung dijemur dibawah terik matahari kualitas batu bata tidak begitu bagus apalagi dengan meningkatnya permintaan persediaan batu bata selalu habis. Pemasaran batu bata tidak hanya di lokal saja tetapi sudah sampai ke luar daerah. Untuk penjualannya per batu bata yaitu Rp 370.00 dan kalau masih terjangkau pengirimannya ditambah Rp 50.00 untuk ongkos yang berarti RP 420.00 per batu bata. Sedangkan untuk musim hujan harga naik menjadi per batu bata yaitu Rp 500.00.

“Untuk upah para pekerja dengan mesin cetak biasanya diambil setelah 30 kali giling yang berarti Rp 900.000,00 mereka bekerja cuma 2 jam, yaitu dari jam 2 siang sampai jam 4 sore. Karena tidak memakan waktu berjam-jam dan menggangu aktivitas sehari-hari maka mereka mau mengambil pekerjaan ini,” tambahnya.

Proses pembuatan batu bata melalui proses pembakaran yang dilakukan selama 48 jam atau (2 hari) nonstop. Bahan utama pengapiannya yaitu Bonggol sawit kering sebagai bahan bakar batu bata karena lebih efektif dan ramah lingkungan dari pada menggunakan kayu bakar. Apabila kondisi cuaca musim penghujan maka pembakaran hanya dapat dilakukan satu kali dalam sebulan, penggunaan bonggol sawit tersebut bertujuan untuk melestarikan hutan dari aktifitas penebangan kayu dan penghematan energi dan sumber daya alam, dalam aspek ekonomi juga lebih menguntungkan.

Setiap harinya ibu rumah tangga harus bekerja dibawah teriknya sinar matahari mereka tidak takut kulitnya hitam dan tangannya kasar karena bekerja di dapur bata ini. Penghasilan suami yang rendah menjadikan mereka harus bekerja demi membantu kebutuhan ekonomi keluarga.

Penghasilan para ibu-ibu ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan untuk ditabung, alasan pemilik usaha dapur bata ini masih memperkerjakan perempuan adalah karena mereka ingin membuka peluang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di Aluebeurawe khususnya para ibu-ibu, yang mana dapat meningkatkan ekonomi keluarga, mengembangkan hubungan sosial dan ingin meningkatkan tentu saja kebebasan finansial.

Keterlibatan ibu-ibu dalam pekerjaan di luar rumah selalu mempunyai arti dalam kehidupannya, ibu rumah tangga yang bekerja harus pandai mengatur waktu agar perannya tidak terganggu dimana dia harus mengurus anak-anak-Nya, kewajiban mengurus rumah tangga dan lainya. Kesadaran diri dan tingkat emansipasi wanita Indonesia tidak mau dirinya mejadi beban suaminya, melainkan mereka ingin juga membantu meringankan beban suaminya dalam hal mencari nafkah untuk keluarga.


Penulis : Ananda Khairunnisa, Intan Haznilita, Alfhyan Syahreza
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com



Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com