26 September 2019 | Dilihat: 47 Kali
Penderita DBD di Aceh Singkil Trus Meningkat
noeh21
Direktur RSUD Aceh Singkil, dr. Khuzaini SP. B, didampingi stafnya, saat ditemui wartawan diruang kerjanya.
 

IJN - Aceh Singkil | Sejak belakangan ini, kasus masyarakat yang terkena demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Aceh Singkil terus meningkat.
 
Dari catatan RSUD Aceh Singkil dibulan Agustus kemarin ada 12 kasus penderita DBD. Ditambah hingga saat ini, warga terkena virus dengue gigitan nyamuk Aedes aegypti bertambah menjadi 21 orang.
 
"Berarti warga yang terserang DBD dibulan September ini bertambah 9 orang," ucap Direktur RSUD Aceh Singkil, dr. Khuzaini SP. B, kepada wartawan diruang kerjanya, Rabu 25 September 2019 kemarin.
 
Dikatakan, dari puluhan pasien yang terserang DBD yang dirawat di RSUD Kabupaten Aceh Singkil itu, tercatat sebanyak 12 orang dewasa serta 9 anak-anak.
 
Namun, hingga saat ini masyarakat Aceh Singkil yang terkena virus dengue itu masih dapat tertangani oleh tim medis pihak Rumah Sakit setempat.
 
"Dari pasien DBD yang dirawat, 19 orang sudah sehat dan kembali pulang ke rumahnya masing-masing. Hanya 2 warga lagi yang masih dirawat di RSUD," ungkapnya.
 
Direktur RSUD menyebutkan, untuk warga yang terserang DBD itu berasal dari Kecamatan Gunung Meriah sebanyak 16 orang, Simpang Kanan 3 orang, dan Singkil Utara 2 orang.
 
"Sedangkan untuk pasien yang paling banyak terkena DBD kali ini yakni, warga Kampung Blok VI Baru dan Suka Makmur Kecamatan Gunung Meriah, masing-masing 3 orang," jelasnya.
 
Untuk kasus DBD itu, kata Khuzaini, pihak RSUD telah melaporkan kepada Dinas Kesehatan Aceh Singkil agar dapat melakukan fogging.
 
Menurut Khuzaini, salah satu penyebab meningkatnya kasus DBD menyerang warga Aceh Singkil, karena saat ini daerah setempat sedang dilanda musim pancaroba.
 
Dengan begitu dihimbau, kepada masyarakat agar dapat lebih pro aktif melakukan pencegahan terhadap timbulnya nyamuk aedes aegepty pembawa virus dengue itu terutama dilingkungan rumahnya masing-masing.
 
"Seperti, menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas yang memiliki potensi menjadi tempat perkembangan nyamuk.
Apabila ada dapat menaburkan bubuk larvasida (abate) pada tempat penampungan air," tandasnya.
 
Penulis : Erwan
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com