17 Februari 2024 | Dilihat: 135 Kali
Ketua Dewan Pers: Kekerasan Wartawati tak Bisa Gunakan UU yang ada
noeh21
Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu menyampaikan pemaparan pada Silaturahmi Wartawati Indonesia (SIWI) dalam rangka HPN 2024 di Candi Bentar Putri Duyung Ancol, Jakarta Utara, Sabtu, 17 Februari 2024. (Foto Meylida Abdani/Portalnusa.com)
 

IJN - Jakarta | Sampai saat ini secara khusus belum ada regulasi yang melindungi wartawati dari tindak kekerasan dalam menjalankan tugas.

Ketua Dewan Pers, Dr. Ninik Rahayu mengungkapkan ketika menjadi narasumber pada Silaturahmi Wartawati Indonesia (SIWI) dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2024 di Candi Bentar Putri Duyung Ancol, Jakarta Utara, Sabtu, 17 Februari 2024.

"Dua hari lalu saya telepon Asisten Deputi Kementerian Pemberdayaan Perempuan (bahwa) kekerasan terhadap wartawati tidak bisa pakai undang-undang yang ada," kata Ninik Rahayu.

Menurut Ninik, kekerasan terhadap profesi (Wartawati) bukan hanya di Indonesia tetapi kasus serupa juga terjadi di berbagai Negara lain.

"Bahwa kasus ini juga terjadi di negara lain terungkap ketika saya mengikuti sebuah forum yang membahas kekerasan terhadap perempuan diikuti perwakilan dari 39 Negara," ujar Ninik.

Diakui Ninik, hingga saat ini belum ada regulasi yang membela atau memberi perlindungan akibat adanya kekerasan terhadap Wartawati.

Dewan Pers, katanya, belum memiliki data riset yang utuh terhadap fenomena dan bentuk kekerasan yang dialami wartawan perempuan di seluruh Indonesia. Belum ada data spesifik tentang kekerasan terhadap Wartawati.

"Ini juga berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan AJI tahun 2022," lanjut Ninik.

Disebutkan Ninik Rahayu, kekerasan terhadap Wartawati bisa di saat kerja atau kekerasan ferbal dari nara sumber.

"Bisa juga kekerasan khas melalui media sosial si Wartawati yang ‘dihantam’ oleh oknum yang diduga merasa dirugikan dari pemberitaan yang dibuat wartawati," tandas Ninik.

Ia mencontohkan kekerasan doxing dengan menyebarkan informasi pribadi si Wartawati yang disebarkan secara online buntut dari postingan pemberitaan yang baru-baru ini terjadi. Ada juga pengrusakan alat kerja.

"Kekerasan bisa juga diterima sang wartawati dari atasan, sejawat maupun dalam rangka menjalankan tugasnya."

Makanya, lanjut Ninik, menjadi penting forum ini bagi Wartawati sehingga bisa sejajar dengan wartawan, baik soal kerja sampai posisi atau jabatan. 

"Juga adanya (dorongan) mempercepat dibuatnya regulasi yang membela dan melindungi Wartawati," tandas Ketua Dewan Pers.

Ia pun menyarankan agar Wartawati terus dan selalu meningkatkan pengetahuannya, pemahaman, dan kompetensi diri.

Penulis : Hendria Irawan
Editor : Afrizal
Kantor Media Indojayanews.com
Klik Di Sini
Jl. Cendana Utama, lr.Jampeitam I
Kecamatan Syiah Kuala.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
Email : redaksiindojaya@gmail.com


Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com