28 Juni 2020 | Dilihat: 178 Kali
Secuil Kisah yang Tersisa dari Perang untuk Damai Demi Kemenangan
Cubo, Menjejak Sang Wanita Tangguh
noeh21
 

Oleh : Dewi Meuthia. 

"Jika pada suatu hari nanti Anda mendengar berita bahwa saya telah syahid, janganlah saudara merasa sedih dan patah semangat. Sebab saya selalu bermunajat kepada Allah SWT agar menasyhidkan saya apabila kemerdekaan Aceh telah sangat dekat. Saya tak ingin memperoleh kedudukan apa pun apabila negeri ini (Aceh). Merdeka!" Itu lah kata pamungkas yang terekam oleh Publik atas jejak sang Panglima Gerakan Aceh Merdeka ( GAM ) Tgk Abdullah Syafi'e. 

Tepat Sebulan sebelum Panglima GAM Alm. Abdullah Syafi'i berpulang dan syahid wasiat pamungkas ini sudah disampaikan kepada publik, seakan Almarhum sudah punya firasat seakan waktunya untuk berpulang semakin dekat. Ya, Panglima orang ta’at beribadah dan mulutnya selalu komat kamit berzikir menyebut asma Allah begitulh cerita para pejuang yang pernah bersamanya. Seorang lelaki dewasa yang teguh dan tangguh, berkharisma, di takzim oleh bawahan dan masyarakat serta disegani oleh lawan. 

Kami kerap mendengar testimoni tentang seorang sosok kharismatik ini dari sahabat sahabat aktifis dulu yg pernah beberapa kali berinteraksi baik melalui telekomunikasi maupun beraudiensi dengan ianya, Alm seorang yg humanis, elegan, sederhana, bersahaja dan anti kekerasan. 

Saat itu kami selalu berkeinginan dalam hati dalam suatu waktu kami harus bertemu langsung dengan sang Panglima Fenomenal ini, tapi apalah daya  saat kesempatan itu datang secara tiba tiba? Kami mengelus dada, pasca keputusan diambil kami hanya bisa berhenti di sebuah Rumah Aman ( Save House ) dalam sebuah Gampong  di Teupin Raya. 

Ya, kami di titipkan disalah satu rumah orang kepercayaan almarhum panglima. tanpa bisa melanjutkan ke tempat markasnya ditempat dianya berlindung saat kondisi yg tidak memungkinkan utk seorang perempuan saat itu dan beberapa sahabat seperjuangan  yang lain teeus melanjutkan perjalanannya untuk mengambil petuah kepada panglima. 

Sampai akhirnya Almarhum syahid beserta seorang istri yang cintainya di tengah kondisi mengandung benih Cintanya dengan Panglima,  dan dua pengawal setianya Tgk Daud Hasyim  dan Tgk Muhammad Ishak ikut serta syahid, dalam kontak senjata di kawasan jim-jim pidie 22 januari 2002, dan sampai dengan kembali kerahmatullah, hasrat kami untuk bertemu idola tak pernah kesampaiaan, sedih dan kecamuk jiwa ini, tapi inilah Qadarullah yang pernah bisa kita terka, ini hanya soal waktu, besok atau lusa kita akan mengikuti panglima ke alam kehidupan yang hakikiki, yang akan meninggalkan semua  cerita dari sebuah kehidupan kita. 

Alhamdulillah kemarin dikawal Oleh Seorang Mantan Pengawal Presiden Libia Muammar Khadafi ( mantan Pasukan elit GAM, Angkatan ketiga alumni maktabah alamiah Tripoli - Libia kerap dikenal dengan sebutan Eks Libia ) dalam sebuah perjalanan takziah kami dibawa ketempat persinggahan terakhir panglima.  Abdullah Syafi'i di cubo pidie. Ini kunjungan pertama kami, sejak beliau gugur dalam waktu 18 tahun yang silam. Remuk redam berasa hati ini, pasca ditunjuk puncak bukit saksi terakhir yang bisu sang panglima gugur berperang secara heroik atas nama marwah bangsa hingga merenggut nyawa dan cintanya ( red : istrinya ) 

Rasa haru yg mendalam tersampaikan lewat doa, terselip rasa bangga dan penghormatan kami utk Almarhumah ummi Fatimah sosok istri yg tangguh hebat dan  luar biasa dan telah mencurahkan seluruh hidup,  jiwa dan raganya atas nama Cinta - Kasih sayang dan kesetiaan serta takzim pada suaminya selalu bersedia didalam hutan belantara mendampingi panglima sampai akhir hayat keduanya harus berguguran secara bersama karena kontak tembak antara pasukan bersenjata, huft miris amisnya darah itu bukti cinta tak bisa dilogika, karena Cinta itu hadir karena rasa dan asa. 

Bagi kami yang menganggumi sosok Alm yg berkharismatik ini tidak akan pernah lepas dari perjuangan seorang ibu yg mengandungnya dan istri yg mendampinginya. Telinga kamipun tak asing lagi mendengar sahutan teman2 katanya " kehebatan seorang suami ada sosok istri yang membentuknya dan doa ibu yang merestuinya”

Ini sangat layak dan pantas dikenang dan jangan pernah mencoba untuk melupakan karena keduanya pejuang sejati dan hebat sepajang masa bagian dari sejarah konflik Aceh kontemporer.

Allahummaghfirlahum warhamhum wa'afihi wa'fu'anhum. Semoga panglima dan istrinya dan para pengawal ya serta syuhada perang Aceh lainnya diterima dan ditempatkan di Syurga oleh Allah SWT.
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com



Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com