11 Oktober 2019 | Dilihat: 579 Kali
Guru PNS hingga Kepala Sekolah Tak Ada di Tempat
Ombudsman Ungkap Buruknya Pelayan Pendidikan di Pulo Aceh
noeh21
Kondisi sekolah kosong karena guru dan kepala sekolah tak di tempat. Foto: Ombudsman RI Aceh
 

IJN - Aceh Besar | Kabar memprihatinkan tentang buruknya pelayanan pendidikan di Pulo Aceh beredar luas di berbagai media massa. Ternyata, kondisi pendidikan di Pulo Aceh khususnya Pulo Breuh, sangat buruk menurut hasil investigasi Ombudsman RI perwakilan Aceh.

Kepada Media INDOJAYANEWS.COM, pada Kamis 10 Oktober 2019, Kepala Ombudsman RI perwakilan Aceh Dr Taqwaddin mengungkapkan, dari 13 orang guru di sekolah SMA Negeri 2 Pulo Aceh, tak satu pun dari mereka hadir menunaikan tugasnya sebagai tenaga pendidik, begitu juga kepala sekolah setempat.

Belakangan, kondisi Pulo Aceh memang sudah sering menjadi sorotan, belum lama ini, buruknya pelayanan kesehatan juga di pulau paling ujung barat Indonesia itu juga menggemparkan, ketika seorag pasien ingin melahirkan harus dilarikan ke Banda Aceh karena bidan disana tidak hadir.

Dr Taqwaddin menjelaskan, buruknya pelayanan pendidikan di Pulo Aceh juga berkat adanya informasi dari masyarakat yang melaporkan kepada Okbudsman, karena prihatin dengan kondisi pendidikan Pulo Aceh yang dikhatirkan semakin memburuk.

Menanggapi laporan masyarakat, Ombudsman pun mengirimkan tim investigasi ke Pulo Breueh, dipimpin oleh Asisten Rudi Ismawan, didampingi oleh Muammar dan Abdul Muluk. Benar saja, pada 8 hingga 9 Oktober 2019, Ombudsman melihat dengan mata kepalanya sendiri ketidakhadiran tenaga pendidikan PNS dan Kepala Sekolah setempat.

"Dalam proses Investigasi, Tim Ombudsman Aceh juga menjumpai sejumlah tokoh masyarakat Pulo Breuh guna mengumpulkan informasi tentang kondisi pendidikan di daerah tersebut.
 Beberapa tokoh masyarakat yang diwawancarai menyampaikan bahwa ada guru yang jarang datang ke Pulo Aceh, padahal fasilitas  rumah dinas disediakan oleh Pemkab Aceh Besar," kata Taqwaddin.

Ia menuturkan, para tokoh masyarakat menginginkan anak-anak Pulo Breueh bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Hal yang sama juga disampaikan oleh para pemuda dan warga pulo breuh lainnya, mereka menginginkan agar anak anak tersebut mendapatkan pendidikan yang layak.

Sungguh miris, anak-anak yang ingin mendapatkan pendidikan lebih baik di kepulauan terluar Indonesia itu, justru mereka harus pulang sekolah lebih awal karena tak mendapat pelayanan pendidikan dari guru-guru mereka, sehingga para siswa memutuskan pulang pada pukul 11.00 WIB.

Untuk diketahui, jumlah siswa di SMA tersebut hanya 88 orang yang berasal dari 12 desa di Pulo Breuh, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.
 Namun, meskipun mereka sedikit, tak lantas membuat para guru dan kepala sekolah setempat lebih peduli.

Taqwaddin pun mengaku sangat kecewa terhadap kondisi pelayanan publik di pulau tersebut, dan meminta pemerintah segera turun tangan merespon kondisi itu.

"Ini tidak bisa dibiarkan. Kami akan sampaikan hasil investigasi ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Aceh dan juga ke Bupati Aceh Besar. Hasil investigasi ini harus menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Aceh dan juga Pemerintah Kabupaten Aceh Besar," pungkasnya.

Penulis. Hidayat. S
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com



Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com