31 Januari 2023 | Dilihat: 467 Kali
Diduga Mabuk, Oknum Polisi Aniaya Pelajar di Simeulue
noeh21
Farhan Duratul Hikmat diduga jadi korban penganiayaan oleh oknum polisi di Kabupaten Simeulue. Foto. Ist
 

IJN - Sinabang | Oknum polisi berinisial I diduga menganiaya seorang pelajar bernama Farhan Duratul Hikmat di Kabupaten Simeulue.

Adapun kronologi kejadian, pada Sabtu malam (28/01/2023), saat korban mengendarai sepeda motor melewati mobil pribadi yang dikenderai oleh oknum polisi berinisial I.

Diduga dalam kondisi mabuk, oknum polisi tersebut langsung mengejar korban dan melakukan pemukulan di kawasan pelabuhan lama.

Saat itu, korban di tampar dan dipukul di bagian kepala, bahkan korban sudah bermohon agar jangan dipukul lagi dan berupaya melarikan diri, namun terduga pelaku berusaha mengejar dan melakukan pemukulan terhadap korban berulang kali. 

Kemudian, kejadian tersebut dileraikan oleh oknum polisi berinisial R yang juga bertugas di polres Simeulue.

Karena merasa ketakutan, korban langsung dilarikan oleh teman korban ke depan Bank BSM, diduga dalam keadaan mabuk dan merasa tidak puas, pelaku mengejar korban hingga di kawasan depan kantor Bank BSM Sinabang.

Disana, korban yang dipukul dan dianiaya tersebut terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit. 

Tak terima dianiaya, keesokan harinya, Minggu (29/01/2023) korban dan keluarga melaporkan peristiwa tersebut ke Kapolres Simeuleu dengan laporan nomor: LP/B/16/1/2023/SPKT/ POLRES SIMEULUE/POLDA ACEH tanggal 29 Januari 2023.

Secara terpisah, kerabat korban di Banda Aceh, juga merupakan Sekretaris Brigadir Nasional Provinsi Aceh, Delky Nofrizal Qutni menegaskan agar persoalan tersebut diproses secara tuntas.

"Sejak kapan aparat kepolisian boleh dengan semena-mena bisa menganiaya masyarakat, apalagi seorang pelajar. Kejadian ini harus diusut tuntas tanpa pandang bulu, kami minta Polda Aceh turun tangan untuk menindak tegas pelaku sesuai aturan," tegas Delky dalam keterangannya kepada media di Banda Aceh, Selasa 31 Januari 2023.

Delky menyebut, selama ini dirinya sangat mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan polisi untuk mengayomi masyarakat, namun preseden buruk seperti ini secara tidak langsung telah merusak citra kepolisian. 

"Sebagai kerabat tentunya kita tak terima persoalan ini. Demi penegakan hukum yang adil, kita juga berharap Polda Aceh turun tangan mengawasi laporan ini agar berjalan sebagaimana mestinya. Jika hal ini tidak ditindaklanjuti sebagaimana mestinya dan tak diberikan sanksi sesuai aturan, kita siap laporkan ini ke Mabes Polri dan Kompolnas bahkan ke komisi III DPR RI,"ujar mantan Kabid Advokasi FPMPA itu.

Delky berharap, kejadian serupa tidak terulang dan perlu dilakukan langkah- langkah kongkret dan tegas. Menurutnya, hal itu berkaitan dengan slogan presisi yang kini dijunjung tinggi Polri apakah benar-benar prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan. 

"Kita akan terus memantau sejauh mana tindakan pihak kepolisian baik itu Polres Simeulue maupun Polda Aceh terkait persoalan penganiayaan pelajar,"ucapnya.

Menurut Delky, selama ini pihak kepolisian di Aceh terutama Polda Aceh menganut pola yang humanisme.

"Ini kan aneh sejak kapan aparat penegak hukum yang harusnya mengayomi masyarakat malah memukuli masyarakat, apalagi korban itu seorang pelajar, ini sudah berada diluar batas norma walaupun di luar jam dinas kerja," sebutnya.

Dia menambahkan, mengenai sanksi, pihak keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.

"Intinya, kita ingin persoalan ini harus diselesaikan secara tegas, tuntas dan berkeadilan. Kita percaya Kapolda Aceh dan para petinggi di Polda Aceh tak bakal mentolerir anggotanya yang melakukan kekerasan terhadap warga, apalagi hanya seorang pelajar. Namun, tentunya kita juga bakal lihat apakah akan ada tindakan kongkret atau malah pembiaran begitu saja walau telah dilaporkan,"tutupnya. (Red)
Kantor Media Indojayanews.com
Klik Di Sini
Jl. Cendana Utama, lr.Jampeitam I
Kecamatan Syiah Kuala.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
Email : redaksiindojaya@gmail.com


Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com