27 Mei 2020 | Dilihat: 2014 Kali
Penegak Hukum Harus Bertindak
Kisah Edi Obama: Tagih Hutang Pilkada 8 Miliar Malah Disodor Fee Proyek 650 Juta
noeh21
Foto pertemuan dengan Edi Obama Cs. Foto Ist.
 

IJN - Banda Aceh | Aksi Edi Saputra atau Edi Obama Cs menginap di Pendopo Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah pada 13 April 2020 lalu, bertujuan untuk menuntut penyelesaian hutang Pilkada Irwandi-Nova pada Tahun 2017.

Namun, berujung tuntutan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab agar dimenangkan tender proyek yang sebelumnya mereka ikut telah kalah dengan anggaran puluhan milyar rupiah. Demikian menurut Edi Obama.

Kepada Media INDOJAYANEWS.COM, Rabu 27 Mei 2020, Edi menjelaskan, usai aksi menginap di Pendopo Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, untuk menuntut penyelesaian hutang Pilkada Irwandi-Nova Tahun 2017, ternyata ada utusan yang datang untuk mediasi.

"Telah datang kepada kami utusan dari Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah Nurdin yang bernama Muhammad Mada atau biasa dipanggil Cek Mada. Beliau berupaya melakukan mediasi untuk pertemuan kami dengan Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah," ungkap Edi Obama.

Namun, katanya, dalam perjalanan proses mediasi ini, muncul oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, secara sepihak membuat kesepakatan jahat dengan Cek Mada dengan mengatakan bahwasanya sebelum bertemu dengan Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah, oknum tersebut sudah lebih dulu meminta Cek Mada untuk menyampaikan kepada Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah, agar membantu mereka memenangkan tender proyek yang mereka ikut.

Padahal beber Edi Obama, sebelumnya mereka telah kalah saat mengikuti tender, kemudian terjadilah sebuah kesepakatan, dan tender proyek yang sebelumnya telah kalah dan yang sedang dalam proses tender itupun bisa dimenangkan kembali oleh oknum yang tidak bertanggungjawab tersebut.

Baca: Anggota Edi Obama Cs yang Ikut Aksi di Pendopo Disuap Nova Melalui Utusan Berinisial CM

"Menurut saya, cara-cara yang dilakukan oleh oknum tersebut merupakan perbuatan yang melanggar hukum, keji, biadab, dan tidak bertanggungjawab. Apa yang mereka lakukan telah berubah menjadi misi mereka untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya (diluar dari tuntutan penyelesaian hutang pilkada)," jelasnya.

"Sementara tujuan awal saya mengajak mereka datang ke pendopo adalah untuk bersilaturrahmi dengan Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah Nurdin,  untuk membahas beberapa masalah, diantaranya menyangkut hutang Pilkada Tahun 2017 yang belum diselesaikan oleh pihak Irwandi-Nova."

Yang lebih parahnya lagi, kata Edi, proyek yang menang tersebut telah dijual dan dialihkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab tersebut ke salah satu pengusaha ternama asal Bireuen dengan perjanjian fee sebesar 15 persen.

"Setelah itu, saya dipanggil lagi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab tersebut, setelah mereka mengadakan pertemuan sebelumnya secara sepihak tanpa melibatkan saya, dan mengatakan kepada saya bahwa pekerjaan sudah selesai, dan saya mendapatkan jatah sebesar 650Jt rupiah," ungkapnya.

Edi mengaku merasa khawatir dan takut akan terjadi masalah dikemudian hari, sehingga  menyampaikan kepada oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab tersebut bahwa dirinya tidak mau menerima uang Rp. 650 Juta itu.

 "Apalagi mereka mengatakan kepada saya ada hak salah satu instansi negara yang terlibat di dalamnya yang harus mereka setor, maka saya memutuskan untuk keluar dari kelompok itu, dan akan berjuang kembali, walaupun saya seorang diri, karena tujuan saya sangat jelas yaitu membahas hutang Pilkada, bukan masalah bagi-bagi fee proyek," tegasnya.

Sebagai warga negara yang baik, Edi Obama juga memohon dengan segala hormat, kepada aparat penegak hukum di negara Republik Indonesia ini agar dapat menindaklanjuti laporan dirinya untuk menjerat sekaligus memberantas habis para mafia atau makelar proyek dari atas sampai ke bawah, yang ada di Aceh sampai ke akar-akarnya, demi adanya suatu keadilan dan kebenaran.

"Jangan sampai mereka berpikir tidak dapat tersentuh oleh hukum, dan mereka bisa berbuat sesuka hati dikarenakan mempunyai kekuasaan. Kemudian akibat dari perbuatan mereka juga dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi negara, dan rakyat Aceh," tandasnya.

Edi Obama juga berharap perhatian dari Presiden Joko Widodo, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kapolri, Kapolda Aceh, dan Kejaksaan Tinggi Aceh.

Sementara itu, Muhammad Mada atau Cek Mada yang diminta penjelasannya via WhatsApp membenarkan apa yang disampaikan Edi Obama. "Ya ado," balas Cek Mada singkat. Namun menurutnya, tidak sepenuhnya yang disampaikan Edi itu benar.

Penulis: Hidayat. S
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com



Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com