18 Juli 2020 | Dilihat: 105 Kali
Unsyiah Raih Akreditasi A Kedua Kali
Mualem: Tetap Kritis dan Jadi Agen Perubahaan di Aceh
noeh21
Ketua Umum DPA Partai Aceh, H. Muzakir Manaf. Foto: Ist/Net
 


IJN - Banda Aceh | Ketua Umum bersama Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh (PA) H. Muzakir Manaf (Mualem) dan H. Kamaruddin Abu Bakar (Abu Razak), mengucapkan selamat kepada rektor dan civitas akademika Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, atas perolehan akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT).

Akreditasi ini dikeluarkan di Jakarta, 14 Juli 2020 dan berlaku 25 tahun atau sejak 11 Juli 2020 sampai 11 Juli 2025. Penetapan dan pengukuhan akreditasi A tersebut, menurut Mualem merupakan langkah maju ditengah persaingan kualitas tatakelola perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia, Asia bahkan dunia.

"Tentu, setelah melalui proses panjang dengan melalui serangkaian kreteria yang begitu ketat dan kompetitif,” kata Mualem, melalui Juru Bicara (Jubir) Partai Aceh, H. Muhammad Saleh, Sabtu 18 Juli 2020, di Banda Aceh.

Itu sebabnya, Mualem dan Abu Razak berharap, Unsyiah dapat tetap tegar, kokoh, konsisten dan profesional dalam peningkatan mutu pendidik (dosen) serta mahasiswa maupun lulusannya. 

Begitupun, tidak meninggalkan dan melupakan tugas serta pengabdiannya sebagai agen perubahaan di Aceh. Ini sejalan dengan amanat Tri Darma Perguruan Tinggi serta cita-cita luhur dari pendiri dan pengagas lahirnya Unsyiah di Aceh.

Apalagi, pengukuhan akreditasi A tersebut telah diraih untuk kedua kalinya dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT). Pertama tahun 2015-2020 dan kedua, 2020 hingga 2025.  “Jadi, semua prestasi ini bukan datang secara kebetulan," ucap Mualem melalui Jubir PA, H. Muhammad Saleh atau akrab disapa Shaleh ini.

Selain itu sebut Mualem, Unsyiah harus konsisten dan kritis dalam menempatkan dirinya sebagai agen perubahaan bagi kemajuan sosial, politik, budaya dan ekonomi serta pembangunan di Aceh. 

“Tetaplah kritis dengan situasi dan kondisi yang ada. Termasuk melahirkan berbagai gagasan dan konsep akademis, sebagai modal dasar untuk merawat perdamaian abadi serta kekhususan Aceh, buah dari MoU  Damai, 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia,” sambung Abu  Razak.

Bagi perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) selama 30-an tahun lebih, Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Partai Aceh. Unsyiah bukanlah perguruan tinggi asing. 

Sebab, banyak para dosen dan alumninya, ikut terlibat dalam perjuangan pisik, gagasan maupun konsep hingga terwujud perdamaian antara GAM dengan Pemerintah Indonesia di Helsinki.

“Berbagai konsep dan gagasan tentang perdamaian dan pembangunan Aceh, baik secara terbuka maupun tertutup, terus kami dapatkan dari para guru besar perguruan tinggi di Aceh. Salah satunya Unsyiah,” ungkap Mualem melalui Jubir PA, Muhammad Saleh.

Makanya, saat kader Partai Aceh memimpin, banyak akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Aceh, termasuk Unsyiah yang diajak dan libatkan dalam pemerintahan. 

Selain itu, tak sedikit dari alumni Unsyiah dan perguruan tinggi negeri serta swasta di Aceh, yang juga direkrut serta menjadi anggota DPR Aceh serta DPRK di seluruh Aceh. Ini membuktikan, Partai Aceh tetap terbuka dengan kehadiran para akademisi.

“Karena itulah, kami tidak pernah menutup mata terhadap berbagai jasa dan konstribusi tersebut, sehingga saat Partai Aceh memimpin Aceh, banyak akademisi yang kami libatkan dari struktur Pemerintah Aceh. Baik sebagai staf ahli maupun kepala dinas (SKPA),” ujar Mualem.

Komitmen penglibatan ini akan terus dilakukan Partai Aceh, sejalan dengan mandat dan kepercayaan politik rakyat Aceh kepada Partai Aceh.  “Insya Allah, mari bersama-sama kita berpikir dan berbuat yang terbaik bagi rakyat Aceh di masa depan,” kata Mualem bersama Abu Razak. (R)
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com



Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com