Kisah ini terjadi di era pemerintahan
modern, seorang Presiden di sebuah negara kaya minyak, memiliki prilaku amat terpuji dan amat bersahaja. Setiap pagi ketika akan bekerja, sang presiden berdiri dihadapan cermin besar, kemudian mengangkat tangannya menunjuk kearah cermin sambil berkata “kau adalah pelayan”, hal ini dilakukan untuk mengingatkan dirinya hanyalah sebagai pelayan. Kebiasaan itu dilakukan terus menerus selama menjadi presiden.
Dia adalah Mahmoud Ahmadinejad presiden Iran, tetap tinggal dirumah pribadinya yang sederhana dan menggunakan mobil pribadinya buatan tahun 90 an. Gajinya sebagai presiden tidak diambinya, hanya menerima gajinya sebagai dosen, makan siangnya dibawa dari rumah dengan menu sederhana. Bahkan dalam setiap lawatan ke luar negeri, Ahmadinejad hanya duduk di kelas ekonomi. Obsesi dalam hidupnya hanya ingin memimpin seperti Umar bin Khatab. Kesederhanaannya membuat para pemimpin dunia takjub dan respek kepada Ahmadinejad.
Tragedi yang menimpa seorang murid sekolah di Lhokseumawe-Aceh Utara, putus sekolah dan tinggal di gubuk kumuh karena didera kemiskinan, mungkin tidak akan terjadi kalau saja Ahmadinejad menjadi Gubernur Aceh, tapi Ahmadinejad hadir hanya dalam mimpi anak-anak Aceh. Bahkan ketika anak-anak Aceh tertidur lelap, mereka rela untuk terus bersama Ahmadinejad dalam mimpi, tanpa berharap untuk bangun lagi esok pagi, karena hanya akan berhadapan dengan realita kemiskinan dan menatap mata para pemimpin Aceh yang penuh ketamakan, serta tangan meraka yang kotor berlumur fee kontraktor. Akibat prilaku pemimpin Aceh hari ini yang tak ajarkan keteladanan serta norma kepemimpinan yang melindungi dan melayani, telah menyebabkan generasi pemilik masa depan Aceh, kehilangan kesempatan mereguk indahnya masa kecil dan remaja, pupusnya peluang untuk memperoleh pendidikan sebagai bekal mereka menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks.
Ditengah keterpurukan rakyat Aceh akibat pandemic covid-19 dan harapan hadirnya uluran tangan pemerintah, sebagai bentuk keperdulian dan tanggung jawab moral, mengatasi setiap kesulitan rakyat. Para pemimpin Aceh justru berlomba-lomba melakukan perampokan secara sistemik, tanpa rasa risih dan empati terhadap kemiskinan yang membelit rakyat selaku pemilik sah tanah warisan indatu.
Bahkan yang lebih melukai hati rakyat, ketika diketahui sang pemimpin tidak berada di Aceh selama berminggu-minggu hanya untuk memenuhi hasrat kesenangannya. Sesungguhnya rakyat Aceh tidak berharap terlalu muluk, walau mengetahui Aceh memiliki kemampuan untuk mengangkat harkat martabat rakyatnya pada taraf hidup yang layak.
Rakyat Aceh merindukan pemimpin yang proporsional dan sadar akan tugasnya melayani, mengayomi serta menjadi teladan, agar generasi yang akan datang memiliki bekal moral sebagai pedoman menjadi manusia Aceh yang tangguh dan bermanfaat bagi sesama. Aceh memang bukan Iran dan Ahmadineja seorang dosen juga bukan Gubernur Aceh yang juga dosen.
Radjasa
Pemerhati Aceh.