15 Juni 2021 | Dilihat: 1571 Kali
Lobi-lobi Ulung, Nova Bayangan Bustami
noeh21
Ilustrasi
 

Oleh : Sri Radjasa Chandra

Reputasi Bustami Hamzah sebagai pelobi ulung tidak diragukan lagi, dia adalah birokrat yang loyal dalam hal  “mengamankan” setiap arahan dan petunjuk pimpinan. Jadi memang pantas kalau sosok Bustami yang pernah dipercaya oleh banyak pemimpin di Aceh pasca damai itu dipercayakan untuk mengurus keuangan, aset dan urusan lobi-lobi anggaran. Nah, untuk yang satu itu Bustami pantas mendapatkan jempol.

Di pemerintahan Nova Iriansyah, Bustami tidak hanya menjadi Kepala BPKA, sayup-sayup terdengar kabar bahwa Bustami juga menjadi “kadis dengan segala urusan” dari menjembatani urusan eksekutif dan legislatif sampai melakukan upaya untuk mengamankan keselamatan majikannya dari jeratan kasus korupsi.

Lantas, mengapa hari ini Bustami sebagai Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh harus hengkang dari sang majikan, bukankah dia lihai untuk menyenangkan pimpinan, kini hal tersebut patut dipertanyakan. Apakah Bustami terjangkit rasa takut luar biasa, berkaitan dengan diperiksanya beberapa pejabat teras dalam kasus mega korupsi di jajaran Pemerintah Aceh, dan dari informasi yang saya dapatkan bakal menyeret sang majikan.

Sang maestro akhirnya undur diri dari blantika pengelolaan keuangan Aceh, di tengah carut marut kepemimpinan Nova Iriansyah. Muncul berbagai spekulasi dan menjadi isu hangat. Ditengarai hubungan Nova dan Bustami sudah tidak manis lagi sejak beberapa bulan terakhir ini.

Pasalnya Bustami merasa dilangkahi oleh Nova yang diam-diam membangun hubungan dengan pihak Kemendagri, sementara awalnya akses Nova ke Kemendagri dibuka oleh Bustami. Sementara banyak pihak yang memprediksi Nova akan kesepian dan kehilangan energi untuk melanjutkan tanggung jawabnya hingga 2022.

Dari berbagai spekulasi yang berkembang mulai dari Bustami yang dipaksa mundur kalau tidak ancaman serius usulan yang berkode AP akan menjadi bomerang buatnya. Namun, ada hal yang menarik untuk dicermati, bahwa hengkangnya Bustami dari lingkaran kekuasaan Nova Iriansyah, merupakan bagian dari strategi Nova-Bustami, dalam rangka mengamankan semua kebijakan Nova selama menjabat Gubernur.

Menurut sumber yang dapat dipercaya, Nova dan Bustami telah melobbi Kemendagri, dalam rangka menempatkan Bustami sebagai PJ Gubernur Aceh, oleh karenanya Bustami harus tinggalkan jabatan sebagai Kepala BPKA untuk dipromosikan mendapat jabatan yang lebih tinggi di Kemendagri, mengingat pangkat Bustami saat ini belum memenuhi syarat jika diangkat sebagai PJ Gubernur Aceh tahun 2022 nanti.

Mungkinkah rakyat Aceh akan tertipu untuk kesekian kali oleh pasangan ganda Nova-Bustami, jika saja nanti sosok Bustami yang akan menduduki jabatan PJ Gubernur Aceh. Tetapi spekulasi tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.

Semua terpulang oleh sikap bijak Pemerintah Pusat dalam melihat persoalan Aceh yang sudah berantakan akibat kepemimpinan yang berselara hedonism. Inilah bukti bahwa budaya tipu Aceh adalah isapan jempol belaka, tetapi tipu pemerintah pusat merupakan kenyataan yang dirasakan rakyat Aceh.



Penulis merupakan pemerhati Aceh yang berdomisi di Jakarta, aktif menyorot isu-isu sosial, politik dan hukum
Jl. Lampanah Kuta Alam Banda Aceh.
Kecamatan Kuta Alam.
Kota Banda Aceh
Provinsi Aceh
​​​​​​Email : redaksiindojaya@gmail.com



Redaksi menerima kiriman opini. Panjang opini 500 – 600 kata dan dikirim ke: redaksiindojaya@gmail.com