22 Jan 2026 | Dilihat: 345 Kali

Kemenag Bireuen Laksanakan Trauma Healing untuk Siswa MIN 42

noeh21
Teks foto: Trainer psikososial, Mulyadi Zakaria, S.Fil.I, MA., sedang memimpin training anak anak MIN 42 Bireuen di tenda belajar di halaman Masjid At Taqwa Muhammadiyah Kec. Peusangan. Bireuen. Foto: IJN/Amiruddin.
      
IJN - Bireuen| Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bireuen melaksanakan kegiatan trauma healing bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 42 Bireuen yang terdampak bencana banjir. Kegiatan ini berlangsung di tenda belajar di halaman Masjid At Taqwa Muhammadiyah Peusangan, Kamis, 22 Januari 2026. 
 
Kegiatan trauma healing tersebut dipandu oleh Mulyadi Zakaria, S.Fil.I, MA, selaku trainer, bersama tim psikososial Kementerian Agama Kabupaten Bireuen. 
 
Kepada IJN, Mulyadi mengatakan, program ini dilaksanakan selama satu hari dan direncanakan akan berlanjut ke sejumlah madrasah lain, khususnya Madrasah Ibtidaiyah (MIN) yang terdampak bencana banjir dan difokuskan pada pemulihan kondisi psikologis anak-anak pascabencana.
 
Dia menyebutkan, kegiatan psikososial Kemenag Bireuen menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penanganan pascabencana, terutama untuk memulihkan luka batin yang dialami para penyintas banjir, khususnya anak-anak.
 
“Anak-anak adalah kelompok paling rentan mengalami trauma pascabencana. Melalui kegiatan psikososial ini, kami berupaya membantu mereka kembali merasa aman, ceria, dan siap mengikuti proses belajar seperti biasa,” kata Mulyadi.
 
Lebih lanjut dia menjelaskan, 240 siswa MIN 42 Bireuen mengikuti kegiatan trauma healing yang dilaksanakan di satu titik lokasi tersebut. Namun, secara keseluruhan, jumlah siswa MIN 42 Bireuen mencapai 334 orang, termasuk satu titik pembelajaran di wilayah Desa Kubu.
 
Saat ini, para siswa terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di bawah tenda darurat, menyusul bangunan sekolah mereka yang ambruk akibat terjangan banjir.
 
Dalam pelaksanaannya, kegiatan trauma healing diisi dengan berbagai aktivitas edukatif dan rekreatif, seperti permainan, komunikasi interaktif, serta pendekatan emosional yang disesuaikan dengan usia anak-anak, katanya. 
 
Metode ini diharapkan mampu mengurangi rasa takut, cemas, dan stres yang masih dirasakan para siswa.
 
Penulis : Amiruddin
Editor : Muhammad Zairin
Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas