IJN - Banda Aceh | Ratusan warga Desa Panton Rayeuk T, Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur, kembali mengungsi ke Kantor Camat Banda Alam setelah mencium bau gas beracun di Desa mereka yang berdekatan dengan tambang gas Blok A.
Peristiwa gas beracun tersebut kembali terjadi yang kedua kali, Bahkan menuai kritik dari berbagai pihak.
Usman Lamreung selaku pengamat dan Akademisi Universitas Abulyatama menilai PT. Medco EP Malaka lalai dan belum mampu menanggulangi masalah yang seharusnya tidak terulang lagi.
​
"​​​​​​Mengingatkan lagi peristiwa yang sama terus saja terulang setahun setelah Blok A memulai operasi (Bau_Mei 2019), tepat rasanya kita kembali mendesak Medco Ep Malaka untuk mensosialisasikan kepada publik secara terbuka tentang bahaya H2S,"kata Usman Lamreung dalam rilisnya yang diterima INDOJAYANEWS.COM, Selasa 29 Juni 2021.
Baca Juga: Aroma Gas Beracun Kembali Tercium di Desa Panton Rayeuk T
Usman menyebutkan, selama ini Medco hanya memberi solusi dari aspek sosial semata, melalui pemberian kompensasi uang, daging, dan lainnya, tanpa menjawab persoalan mendasar yaitu bahaya H2S dan rencana mitigasinya.
Lanjut Usman Lamreung, penduduk areal tambang gas Blok A harusnya berhak mendapatkan informasi dan Medco EP Malaka dan berkewajiban menjelaskan resiko serta bahaya H2S, disertai penjelasan secara teknis dan detail rencana mitigasinya.
Baca Juga: KMPA Minta Dukung KPK Periksa Perizinan PLTU 3-4 Nagan Raya
Misalkan menyangkut deteksi gas, jalur dan lokasi evakuasi (dalam dua insiden sebelumnya, warga lakukan evakuasi secara mandiri, tanpa ada deteksi gas sebelumnya).
"Desakan sosialisasi terbuka, mengingat sudah sepatutnya masyarakat yang hidup pada areal proyek gas tersebut diberitahukan akan bahaya H2S, sebagai bagian resiko dari suatu proses produksi, sebagaimana diketahui, produksi gas di Blok A memiliki tingkat resiko tinggi, sehingga PT Medco sebagai operator Blok A dalam kegiatan operasionalnya benar-benar memprioritaskan keselamatan warga areal proyek,"jelasnya.
Usman meminta, PT Medco EP Malaka sebagai operator Blok A tentu punya standard pengelolaan resiko dan keselamatan (risk and safety management plan). Namun Usman Lamreung meragukan Medco serius menerapkan dilapangan, mengingat insiden yang sama terus berulang, dan berdampak besar pada kesehatan masyarakat.
Usman lamreung juga berharap melalui sosialisasi secara terbuka, masyarakat akan siap dan sadar untuk hidup berdampingan dengan kegiatan tambang yang beresiko tinggi dan bersama-sama dengan stakeholder lainnya menyusun konsep Early Warning System (EWC) berbasis masyarakat, sebagai bagian mitigasi kebencanaan.
"PT Medco harus serius dan konsisten dalam menjalankan operasi Blok A benar-benar mempertimbangkan keselamatan warga sekitar lokasi tambang, bukan hanya tindakan sporadis ketika terjadi masalah atau bencana, namun harus dibarengi dengan edukasi masyarakat sekitar, agar kehidupan warga tidak terganggu,"harapnya.
Penulis: Hendria Irawan