27 Sep 2024 | Dilihat: 1070 Kali

Akademisi Sebut Visi-Misi Kandidat Pilkada Aceh Bukan Cerita "Abu Nawas"

noeh21
Akademisi dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Pelita Nusantara (STIAPEN), Banta Diman, M.Si. foto. Dokumen Pribadi
      
IJN - Suka Makmue | Akademisi dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Pelita Nusantara (STIAPEN), Banta Diman, M.Si, menegaskan pentingnya visi misi kandidat dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024, sebagai elemen utama yang menentukan arah masa depan pembangunan daerah.

Banta Diman mengatakan, visi misi kandidat bukan sekadar janji kampanye yang sifatnya sementara, melainkan merupakan fondasi yang akan berdampak besar pada kehidupan masyarakat selama masa jabatan 5 tahun, atau bahkan lebih lama.
 
"Kemarin tanggal 25 September banyak orang mendengar janji-janji kampanye yang ditawarkan para calon kepala daerah, baik Gubernur, maupun di Kabupaten atau kota di Aceh, tetapi banyak juga masyarakat yang mengabaikan aspek paling penting, yaitu visi dan misi mereka. Ini bukan sekadar kata-kata manis sekedar lok untuk menarik suara. Visi misi adalah peta jalan yang akan mempengaruhi arah pembangunan daerah dalam jangka panjang," kata Banta Diman kepada IndoJayaNews.com, Jum'at, 27 September 2024
 
Menurutnya, visi misi adalah landasan utama yang mencerminkan gagasan besar seorang calon kepala daerah tentang masa depan wilayah yang ingin dipimpinnya.

Visi adalah pandangan jangka panjang mengenai bagaimana calon melihat daerahnya di masa depan, sementara misi adalah langkah-langkah konkret yang akan diambil untuk mewujudkan visi tersebut.
 
"Visi misi bukan hanya soal apa yang ingin dilakukan, tetapi juga bagaimana kandidat tersebut berencana untuk mengelola daerah. Ini adalah janji yang spesifik dan sangat serius. Jika kita memilih pemimpin yang tidak memiliki visi atau visi yang tidak realistis, kita hanya membuang-buang waktu dan kesempatan untuk melihat daerah kita berkembang,"ucapnya.

Ia menjelaskan, setiap daerah memiliki tantangan dan potensi yang berbeda. Oleh karena itu, visi misi yang dirumuskan oleh kandidat kepala daerah harus sesuai dengan kebutuhan dan potensi tersebut.

"Misalnya, di daerah yang memiliki potensi wisata alam, calon kepala daerah seharusnya memiliki visi yang mendukung pengembangan sektor pariwisata, diikuti dengan misi yang fokus pada pembangunan infrastruktur dan promosi wisata," jelasnya.
 
Selain itu, Banta menekankan pentingnya keselarasan visi dan misi dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) daerah.

"RPJP adalah dokumen strategis yang memuat arah pembangunan daerah selama 20 tahun. Seorang kandidat yang serius akan merumuskan visi dan misinya berdasarkan RPJP tersebut. Ini penting agar program-program yang mereka tawarkan tidak hanya relevan untuk lima tahun, tetapi juga mendukung pencapaian target jangka panjang," ungkapnya.
 
Ia menyebutkan, Visi dan misi yang sejalan dengan RPJP akan memastikan bahwa pembangunan daerah berlangsung secara berkesinambungan, tanpa ada kebijakan yang tumpang tindih atau kontraproduktif.
 
Banta juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang sering mengabaikan pentingnya visi dan misi saat Pilkada.

Banyak pemilih, kata Banta Diman, lebih tertarik pada hal-hal dangkal seperti popularitas kandidat, hubungan emosional, atau bahkan hiburan yang ditawarkan selama kampanye.

"Ini bisa dimaklumi karena tidak semua orang memiliki waktu atau kesempatan untuk memahami visi dan misi kandidat secara mendalam," ujarnya lagi.
 
Namun, sikap skeptis ini justru dapat membawa dampak buruk. "Pengalaman masa lalu di mana banyak janji kampanye tidak terealisasi membuat masyarakat skeptis. Mereka berpikir bahwa siapa pun yang terpilih, mereka tidak akan benar-benar melaksanakan apa yang dijanjikan. Akibatnya, masyarakat tidak peduli lagi pada visi dan misi kandidat, padahal ini bisa menjadi bumerang. Mereka bisa saja memilih pemimpin yang tidak memiliki rencana yang jelas, dan ini bisa menyebabkan stagnasi pembangunan," kata Banta.
 
Banta mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menilai visi dan misi para kandidat. Menurutnya, tidak cukup hanya melihat seberapa muluk visi yang ditawarkan, tetapi juga penting untuk mempertanyakan apakah visi tersebut realistis dan bisa diwujudkan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemilih, menurut Banta, antara lain:
 
Relevansi visi dengan kondisi daerah: Visi harus sesuai dengan tantangan dan kebutuhan daerah. Jika daerah memiliki masalah besar di bidang infrastruktur, maka misi yang fokus pada pengembangan infrastruktur harus menjadi prioritas.
 
Keselarasan dengan RPJP daerah: Kandidat yang serius akan merumuskan visi dan misi yang sejalan dengan RPJP. "Jika visi dan misi mereka berbeda dari arah pembangunan yang ditetapkan dalam RPJP, ada kemungkinan besar bahwa rencana mereka tidak realistis atau bahkan tidak efektif," ujar Banta.
 
Misi yang jelas dan terukur, Misi harus berupa langkah-langkah konkret yang bisa dilaksanakan selama masa jabatan lima tahun. "Kandidat yang memberikan misi yang terlalu umum tanpa penjelasan detail seringkali sulit diwujudkan," tambahnya.
 
Rekam jejak kandidat, Menurut Banta, pemilih juga perlu melihat rekam jejak kandidat untuk menilai seberapa serius dan mampu mereka dalam menjalankan visi dan misinya.
 
Banta Diman, M.Si, juga mengingatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengawasi pelaksanaan visi dan misi kandidat yang terpilih. "Visi dan misi tidak akan berarti banyak jika masyarakat tidak terlibat aktif dalam proses demokrasi. Pemilih memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya memilih, tetapi juga mengawasi dan menagih janji kandidat yang terpilih," ujarnya.
 
Masyarakat berhak meminta pertanggungjawaban dari kepala daerah yang terpilih jika mereka mulai menyimpang dari visi dan misi yang dijanjikan. Keterlibatan masyarakat, kata Banta, juga penting dalam proses penyusunan visi dan misi.

"Kandidat yang baik akan mendengarkan aspirasi masyarakat dan memasukkannya dalam visi dan misi mereka. Dengan begitu, visi dan misi tersebut tidak hanya menjadi rencana sepihak, tetapi juga cerminan dari kebutuhan dan harapan masyarakat," lanjutnya.
 
Banta Diman menegaskan dengan menyatakan bahwa visi dan misi kandidat kepala daerah bukan sekadar janji-janji kosong yang dilontarkan untuk menarik suara.

"Visi dan misi adalah peta jalan yang sangat penting untuk menentukan arah pembangunan daerah dalam jangka panjang. Ini bukan cerita Abu Nawas. Sebagai pemilih, kita harus kritis dan terlibat dalam menilai apakah visi dan misi yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan daerah kita," tegasnya.
 
Dengan pemahaman yang lebih mendalam, Banta berharap masyarakat bisa memilih pemimpin yang benar-benar mampu membawa perubahan positif bagi Aceh. Demikian.



Penulis : Hendria Irawan

 
Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas