25 Jul 2026 | Dilihat: 58 Kali

Cegah Penyebaran Paham NVE, Tim Densus 88 Edukasi di MAN 4 Aceh Besar

noeh21
Satgaswil Aceh Densus 88 AT Polri diwakili Aipda Azwar, S.Sos., M.Si., saat memaparkan Tentang penyebaran paham NVE kepada orang tua wali murid di MAN 4 Aceh Besar. | (Foto IJN)
      
IJN - Aceh Besar | Di tengah derasnya arus digitalisasi, peran keluarga menjadi kunci untuk melindungi anak dari paparan paham berbahaya. Hal ini yang menjadi penekanan Tim Pencegahan Satgaswil Aceh Densus 88 Anti teror Polri saat menjadi narasumber dalam Seminar Parenting di MAN 4 Aceh Besar, Sabtu 25 Juli 2026.
 
Seminar yang mengusung tema "Sinergi Madrasah dan Keluarga Membentuk Karakter Anak" ini diselenggarakan untuk memperkuat kolaborasi antara madrasah dan orang tua dalam pembentukan karakter peserta didik, termasuk dalam hal literasi digital.
 
Kegiatan menghadirkan Ust. H. Masrul Aidi, Lc. sebagai pemateri utama. Adapun Tim Pencegahan Satgaswil Aceh Densus 88 AT Polri diwakili Aipda Azwar, S.Sos., M.Si., yang menyampaikan materi bertajuk "Peran Orang Tua dalam Mencegah Bahaya Penyalahgunaan Gawai dalam Penyebaran Paham Nihilistic Violent Extremism (NVE) pada Anak."
 
Orang Tua sebagai Garda Terdepan
 
Dalam paparannya, Aipda Azwar menjelaskan bahwa kemajuan teknologi digital membawa manfaat besar bagi dunia pendidikan. Namun, ruang digital juga rentan disalahgunakan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan paham ekstrem, salah satunya Nihilistic Violent Extremism atau NVE, melalui media sosial dan berbagai platform internet.
 
Menurut dia, NVE yang berakar pada paham nihilistik dan menghalalkan kekerasan perlu diwaspadai penyebarannya di kalangan remaja. Untuk itu, orang tua memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan.
 
"Edukasi tidak cukup hanya di sekolah. Pengawasan dan pendampingan di rumah menjadi benteng pertama anak dalam bermedia digital," ujar Azwar.
 
Tim Pencegahan tidak hanya mengenalkan karakteristik dan pola penyebaran paham NVE, tetapi juga memberikan langkah praktis yang dapat dilakukan keluarga. Mulai dari pendampingan penggunaan gawai, pengawasan konten yang diakses anak, hingga pentingnya membangun komunikasi yang terbuka dan empatik di lingkungan keluarga.
 
Nilai-nilai keagamaan, Pancasila, toleransi, empati, dan cinta tanah air, kata dia, perlu ditanamkan sejak usia dini agar anak memiliki ketahanan terhadap pengaruh negatif di era digital.
 
Diskusi dalam seminar berlangsung interaktif. Sejumlah orang tua tampak antusias mengajukan pertanyaan, terutama terkait tantangan pengasuhan di era digital dan cara mengenali tanda-tanda awal anak terpapar konten berbahaya.
 
Melalui forum ini, Tim Pencegahan Satgaswil Aceh Densus 88 AT Polri berharap sinergi antara madrasah, keluarga, dan para pemangku kepentingan dapat terus diperkuat.
 
"Agar anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, literasi digital yang baik, dan daya tangkal terhadap berbagai paham ekstrem, termasuk NVE." pungkas Azwar.
 
Penulis | Ray
Editor | Redaksi
Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas