IJN - Banda Aceh | Potensi besar kerja sama ekonomi regional dalam skema Growth Triangle (GT) antara Indonesia, Malaysia, dan Thailand (IMT-GT) masih belum tergarap maksimal.
Untuk mendorong percepatan, Malaysia dianggap sebagai "lokomotif" utama karena kemajuan industrinya. Agar Indonesia, khususnya Aceh, bisa mengambil peran lebih besar, maka diperlukan sebuah gebrakan yang menarik minat investasi.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Pengurus Pusat (MPP) Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI), Dr Ing Ilham Akbar Habibie MBA, saat menerima kunjungan silaturahmi dari rombongan Majelis Pengurus Wilayah (MPW) ISMI Aceh yang dipimpin oleh Ketua Nurchalis, Sekum Muhammad Balia, dan Bendum Fuadi Satria di Wisma Habibie & Ainun, Jakarta Selatan, Senin 25 Agustus 2025.
Menurutnya, salah satu terobosan yang patut diusulkan adalah penetapan Halal Indonesia Park sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
Label ini dinilai sangat penting untuk menarik investor besar, terutama dari sektor perbankan syariah internasional seperti Islamic Development Bank (IsDB) yang telah menyatakan ketertarikannya.
“Meskipun beberapa kawasan industri di Indonesia telah menyandang status PSN, Halal Indonesia Park di Aceh belum mendapatkannya,” ujar Ilham Akbar Habibie.
Sementara itu, Ketua ISMI Aceh, Nurchalis, menyebutkan bahwa Pemerintah Aceh memiliki otoritas khusus berdasarkan undang-undang otonomi daerah untuk menetapkan proyek strategis di tingkat provinsi.
Proyek Strategis Aceh ini, kata dia, dapat menjadi langkah awal yang kuat, karena akan memberikan kemudahan, termasuk insentif perpajakan setara PSN yang diberikan oleh Kementerian Keuangan. Dengan demikian, pengakuan dari pemerintah pusat secara tidak langsung sudah didapatkan.
“Langkah ini penting untuk meyakinkan mitra, investor, media, dan masyarakat bahwa proyek ini memiliki bobot serius, baik secara lokal maupun nasional,” ujarnya, membenarkan usulan Ketum ISMI Pusat.
Nurchalis menyebutkan bahwa Pemerintah Aceh telah mengambil langkah konkret dengan membeli kapal Ferry Roro untuk melayani rute laut antara Aceh dan Malaysia.
“Rute ini, yang berangkat dari Krueng Geukueh, Aceh Utara, menuju Penang, Malaysia, hanya memakan waktu sekitar 6 jam. Kesiapan infrastruktur transportasi ini sangat vital untuk membangun ekosistem supply chain dan logistik yang mendukung industri,” jelas Nurchalis, yang juga Ketua Fraksi Partai NasDem di DPR Aceh.
Untuk mendukung usulan ini, diperlukan kolaborasi berbagai pihak, termasuk dengan MPP ISMI dengan segala jaringan yang dimilikinya. Organisasi internasional seperti International Chamber of Commerce (ICC) yang fokus pada perdagangan internasional juga telah menyatakan kesiapannya dalam memberikan dukungan melalui program pelatihan bagi UMKM agar mereka siap menjadi eksportir.
Selanjutnya, audiensi dengan sejumlah menteri terkait juga penting untuk menjadi agenda utama. Kementerian yang dianggap paling relevan adalah Menteri Koperasi dan UKM, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, hingga Menteri Investasi.
Melalui audiensi ini, diharapkan proyek Halal Indonesia Park dapat menjadi agenda penting pemerintah pusat dan mendapat dukungan penuh, baik secara formal maupun informal, untuk kebangkitan ekonomi Provinsi Aceh.
Dengan kerja sama yang terjalin erat antara pemerintah daerah, komunitas, dan pemerintah pusat, diharapkan Aceh dapat mengambil peran strategis dan menjadi pintu gerbang utama dalam pertumbuhan ekonomi regional IMT-GT.
Bersiap Menuju Muzakarah Saudagar
Dalam pertemuan tersebut, rombongan MPW ISMI Aceh yang diketuai oleh Nurchalis didampingi Sekretaris Umum Muhammad Balia dan Bendahara Umum Fuadi Satria juga berkoordinasi dengan Ketum ISMI Pusat, Ilham Akbar Habibie, untuk mematangkan konsep pelaksanaan sebuah perhelatan akbar bertajuk ‘Muzakarah Saudagar’ yang akan dilaksanakan di Balai Meuseuraya, Kota Banda Aceh, pada 21-23 November 2025 mendatang.
Acara tersebut akan menjadi panggung bagi para pelaku UMKM serta para saudagar Aceh dari berbagai belahan dunia untuk kembali, bukan sebagai tamu, tetapi sebagai mitra.
Fokus utamanya jelas, yaitu memperkuat UMKM Aceh dan iklim investasi. Muzakarah Saudagar ini akan menjadi ruang untuk berbagi ide, mencari peluang, dan merajut koneksi.
Acara ini akan dipadukan dengan kegiatan Expo UMKM dengan target mencapai 100 stan lebih, pelatihan e-commerce dan ekspor bagi pelaku UMKM lokal, serta forum business matching yang mempertemukan pelaku usaha lokal dengan diaspora dari 22 negara. Target pengunjung diperkirakan akan mencapai 50.000 orang lebih, baik dari lokal, nasional maupun internasional.
Penulis: Hendria Irawan
Editor: Redaksi