IJN - Bireuen | Di tengah upaya mendokumentasikan dan menyelamatkan sastra lisan Aceh, sebuah ironi tersaji di Perpustakaan Gampong Meubaca, Lueng Daneun, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen.
Perpustakaan yang pernah dinobatkan sebagai terbaik tingkat Aceh pada 2025 itu, kini masih berjuang bangkit setelah seluruh koleksi bukunya hancur diterjang banjir bandang.
Kondisi tersebut terungkap saat Balai Bahasa Provinsi Aceh melaksanakan kegiatan pendataan dan pemetaan potensi sastra lisan Aceh di lokasi tersebut, Kamis, 11 Juni 2026.
Dalam kegiatan itu, relawan perpustakaan, Wahyuni, tampil membawakan dongeng rakyat Aceh berjudul "Guha Ulee Keubeu", sementara Qafrawi dari Komunitas Baca Bireuen menyajikan legenda "Putroe Nie".
Kedua cerita tersebut menjadi bagian dari proses pendokumentasian warisan budaya yang selama ini hidup di tengah masyarakat secara turun-temurun.
Tim Balai Bahasa Provinsi Aceh yang dipimpin Ibrahim Sembiring bersama Helmi Fuad dan Irawan Syahdi melakukan pendataan selama tiga hari, mulai 10 hingga 12 Juni 2026.
Namun, di balik semangat pelestarian budaya tersebut, tersimpan persoalan yang belum terselesaikan.
Banjir bandang yang melanda Bireuen pada akhir tahun lalu melumpuhkan Perpustakaan Gampong Meubaca. Ribuan buku dan berbagai fasilitas pendukung rusak berat hingga tidak dapat digunakan lagi.
Meski kehilangan hampir seluruh koleksinya, para relawan dan pengurus perpustakaan tidak menyerah. Berbagai kegiatan literasi tetap digelar dengan dukungan Pemerintah Gampong Lueng Daneun agar perpustakaan tetap hidup di tengah keterbatasan.
"Karena sejarah sudah terlanjur ditulis, kami harus bangkit agar perpustakaan ini eksis kembali," kata pengurus perpustakaan, Husnul Khatimah.
Menurut Husnul, kehadiran Balai Bahasa Provinsi Aceh untuk memetakan sastra lisan menjadi momentum penting yang menunjukkan bahwa perpustakaan tersebut masih memiliki peran strategis dalam pelestarian budaya lokal.
Namun, ia berharap perhatian tidak hanya berhenti pada pendokumentasian cerita rakyat.
Ia meminta adanya dukungan nyata untuk membantu pemulihan perpustakaan yang hingga kini masih kekurangan koleksi bacaan dan sarana pendukung. "Kami butuh bantuan buku," ucapnya.
Permintaan itu menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan mendata cerita rakyat, tetapi juga dengan memastikan ruang-ruang literasi di gampong tetap hidup. Sebab, dari perpustakaan-perpustakaan sederhana itulah warisan budaya, pengetahuan, dan tradisi bertutur.
Penulis | Amiruddin
Editor | Muhammad Zairin