02 Mei 2026 | Dilihat: 30 Kali

Dosen Universitas Almuslim Luncurkan Buku Epidemiologi Penyakit Cacing Sapi di Aceh

noeh21
Teks Foto: DR. Drh. Zulfikar, M.Si menyerahkan buka karyanya yang berjudul "Epidemiologi Nematoda Gastrointestinal Pada Sapi di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi Provinsi Aceh” kepada Kepala Dinas Peternakan Aceh, drh. Safridhal, drh. T. Munazar, M. Si (Sekretaris Dinas Peternakan Provinsi Aceh) dan Azwari, S.Pt., M.Si (Kabid Produksi Dinas Peternakan Provinsi Aceh). Foto: IJN/Dok. Pribadi. 
      
IJN - Bireuen | Upaya peningkatan kesehatan ternak sapi di Aceh kembali mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi. Dr. Drh. Zulfikar, M.Si adalah dosen tetap Universitas Almuslim Bireuen, meluncurkan sebuah buku berjudul “Epidemiologi Nematoda Gastrointestinal Pada Sapi di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi Provinsi Aceh”.
 
Buku tersebut kini telah diserahkan kepada Dinas Peternakan Provinsi Aceh serta sejumlah dinas kabupaten/kota, termasuk Dinas Peternakan Kabupaten Bireuen belum lama ini, sebut Zulfikar kepada IJN, Sabtu, 2 Mei 2026.
 
Disebutkan, buku ini hadir sebagai rujukan penting dalam memahami penyakit cacing (nematoda gastrointestinal) pada sapi yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama menurunnya produktivitas ternak, baik ruminansia kecil maupun besar.
 
Dia mengatakan, penyakit ini dinilai berbahaya karena tidak tampak secara langsung dari luar, namun berdampak besar terhadap kondisi tubuh hewan.
 
“Seringkali sapi terlihat kurus, tetapi penyebabnya tidak selalu diketahui secara pasti. Bisa jadi karena infeksi cacing, namun juga bisa disebabkan faktor lain. Di sinilah pentingnya pemahaman epidemiologi agar penanganan tepat sasaran,” kata Zulfikar.
 
Ia menegaskan, penyakit cacing pada sapi bukanlah penyakit musiman. Infeksi dapat terjadi sepanjang waktu, terutama jika tidak dilakukan penanganan dan pengobatan secara berkala, maksimal 6 bulan sekali. Karena sifatnya yang menyerang organ dalam, penyakit ini kerap luput dari perhatian peternak.
 
Melalui buku tersebut, Zulfikar berharap pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan di sektor peternakan dapat meningkatkan perhatian terhadap kesehatan hewan, khususnya dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit, parasit cacing. Dia juga mendorong adanya program rutin pengobatan dan edukasi kepada peternak.
 
Zulfikar sendiri merupakan akademisi kelahiran Matang glumpang dua, 26 Desember 1968, dari pasangan Abdullah Hasan dan Cut Latifah. Ia menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di Bireuen dan Banda Aceh, sebelum melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala hingga meraih gelar dokter hewan pada tahun 1996.
 
Pendidikan magister ditempuh di bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Universitas Syiah Kuala pada 2013, dan kemudian meraih gelar doktor dari Universitas Sumatera Utara pada tahun 2020 melalui program Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan dengan beasiswa BPPDN. Sejak tahun 2007, Zulfikar mengabdi sebagai dosen di Universitas Almuslim Bireuen. 
 
Ia mengampu berbagai mata kuliah terkait kesehatan hewan dan lingkungan, seperti Parasitologi Hewan, Kesehatan Ternak, hingga Manajemen Risiko Lingkungan. Sebelum berkarier di dunia akademik, ia pernah bekerja di sejumlah perusahaan swasta di Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera pada periode 1996–2006, yang bergerak di bidang obat-obatan serta pakan ternak unggas dan ruminansia.
 
Selain aktif mengajar, Zulfikar juga produktif dalam dunia penelitian. Tercatat lebih dari 20 karya ilmiah telah dipublikasikan di jurnal nasional dan internasional, termasuk penelitian tentang penyakit infeksius pada ternak sapi dan metode pencegahannya.
 
 
Penulis | Amiruddin 
Editor | Muhammad Zairin
Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas