IJN - Pidie | Kue Ade Ie Leubeu merupakan panganan langka asli dari Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie. Berwarna kekuningan orange menambah selera untuk menikmatinya. Bahkan, kabarnya apabila sekali coba pasti ketagihan. Pun makanan sederhana ini kerap disajikan saat Ramadhan, namun masih saja ada yang menjual tatkala di hari-hari biasa.
Secara harfiah, Ade Ie Leubeu berarti kue tepung ketan dalam bahasa lokal, dan kue ini memang terbuat dari bahan utama berupa tepung beras yang dipadukan dengan berbagai bahan alami lainnya.
Dinamakan Ie Leubeu, karena kue ini pada awalnya hanya diproduksi di Gampong Ie Leubeu. Salah satu hal yang paling menarik dari Ade Ie Leubeu adalah rasa dan warnanya yang berbeda dari ade yang dikenal banyak orang, seperti Ade Kak Nah di Meureudu, Pidie Jaya.
Ade ini terbuat dari tepung beras putih, telur, dan gula pasir. Berbentuk pipih, berwarna kuning. Ada yang digulung dan ada pula dijual tanpa digulung, melebar seperti halnya kue talam.
"Rasanya cukup manis dan sedikit legit. Cocok untuk panganan bersantap bersama kopi, bang," kata Mustakim ketika ditanya kenikmatan menyantap kue Ade Ie Leubeu, Rabu 9 Oktober 2024.
Kue Ade Ie Leubeu. | (Foto IJN)
Proses pembuatan Ade Ie Leubeu adalah sebuah seni tersendiri. Pembuatannya memerlukan keahlian dan kesabaran yang tinggi. Proses ini tidaklah mudah dan sering kali memerlukan perhatian ekstra dari para pembuatnya.
Setiap hari, mereka harus berhadapan dengan asap tebal yang dihasilkan dari bara sabut kelapa yang digunakan untuk memasak kue ini. Mengelola bara api dengan sabut kelapa memerlukan keterampilan khusus, karena jika tidak dilakukan dengan benar, kue ini bisa terbakar dan tidak matang dengan sempurna.
"Kue ini biasa dijual ketika bulan Ramadhan, bang. Tapi kalau di hari-hari biasa juga ada yang menjualnya, walau kita harus keliling pasar, bang," tambah Mustakim lagi.
Tak jauh beda apa yang dikatakan Hamidah. Perempuan 21 tahun ini mengakui sangat menyukai kue Ade Ie Leubeu. Bahkan, katanya, ciri khas kue Ade Ie Leubeu cukup terasa dengan manisnya dan wangi karena dipanggang pakai bara api.
"Kalau yang saya tahu kaum ibu-ibu yang membuat kue ini harus punya kesabaran tinggi. Dan api berupa bara yang membakar kue pun dijaga betul supaya tidak gosong nantinya," imbuh Hamidah.
Tidak hanya satu tungku yang digunakan dalam proses ini, dengan ukuran kue yang kecil, para pembuat harus memanfaatkan beberapa tungku sekaligus untuk memastikan setiap potongan kue dimasak secara merata.
Keseluruhan proses pembuatan Ade Ie Leubeu adalah sebuah usaha yang memerlukan dedikasi dan keterampilan, menjadikannya lebih dari sekadar jajanan lokal, tetapi juga sebuah karya seni kuliner yang dihargai.
Harga yang ditawarkan juga terjangkau semua kalangan, per porsi berisi 5 kue biasanya dijual Rp5-10 ribu.
Kue Ade Ie Leubeu di jual . | (Foto IJN)
Untuk teksturnya, adee ie leubee dilapisi tepung yang lembut. Ketika indera pengecap bertemu dengan kue tersebut, langsung terasa aroma minyak bawang yang harum.
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan Ade Ie Leubeu masih sangat tradisional. Proses memasaknya dilakukan dengan menggunakan kuali atau wajan yang terbuat dari tanah liat.
Alat bantu yang digunakan untuk memindahkan kuali dan bara api antara tungku-tungku juga sangat sederhana, yaitu dua bilahan bambu. Keseimbangan tangan menjadi kunci penting dalam proses ini. Tanpa keterampilan yang memadai, kuali tanah liat yang kecil dan rapuh bisa pecah atau retak selama proses pemindahan.
Dalam setiap pembuatan Ade Ie Leubeu, terdapat nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Warna kuning memberi arti kehangatan dan rasa bahagia dan seolah ingin menimbulkan hasrat untuk bermain.
Dengan kata lain warna ini juga mengandung makna optimis, semangat dan ceria. Kue ini hanya bertahan sampai satu hari, karena tidak mengandung bahan pengawet. (***)