IJN - Medan | Kota Medan gempar. Jasad seorang ibu dikubur anak kandungnya di belakang rumah tepatnya di di Jalan Tuba III, Kelurahan Tegal Sari Mandala II, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Sumatera Utara. Temuan itu pada 23 Ramadhan, Rabu (3/4/2024).
Mirisnya lagi, nyawa sang ibu itu melayang di tangan anak sulungnya. Ya, korban adalah Megawati. Berusia 56 tahun yang sehari-sehari bekerja serabutan. Sedangkan pelaku keji itu adalah Wem Pratama. Laki 34 tahun tersebut merupakan anak tertua dari empat bersaudara.
Kejadian ini pun tak cuma jadi konsumsi pemberitaan pewarta di Medan namun juga media nasional. Terungkap, bahwa pemicu Wem menghabisi ibu yang melahirkannya itu karena sebatang rokok. Dari situ Wem kesetanan, hingga tega membunuh Megawati dengan sebilah cutter.
Memang, selama ini Wem dikenal seorang yang tempramental. Dia kerap marah apabila ada seseorang yang menegurnya. Bahkan, Wem pun kadang tak segan mengajak orang berkelahi, cuma gegara masalah sepele. Nah, dari situ warga sekitar menjauhi Wem, dan enggan untuk berteman kepadanya.
Menginjak usia 25-an, Wem menikah dengan seorang wanita pujaan hatinya. Dari situ dia dikarunia dua orang anak. Untuk mengubah jalan hidup dan peningkatan perekonomian, Wem sempat memboyong anak dan istrinya ke Pulau Batam.
Alasan Wem, selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, adiknya juga lebih dulu mencari nafkah di Pulau Batam. Beberapa tahun bermukim di Batam, toh tak membuat Wem berubah. Baik dari segi ekonomi, begitu juga dengan sikap tempramentalnya. Alhasil, Wem mengambil sikap untuk pulang ke Medan.
Di Medan, Wem menetap di rumah ibunya di Jalan Tuba III tersebut. Dia pun tinggal bersama Megawati, selaku korban keganasan anak kandungnya. Puncaknya pada 1 April 2024. Siang hari itu, korban Megawati baru saja pulang bekerja. Dia melihat Wem duduk di ruang tengah rumahnya.
Melihat sang ibu pulang, Wem bukannya menyambut dengan suka cita. Malah Wem saat itu menghampiri untuk meminta uang. Ya, dengan maksud membeli rokoknya. Karena Wem yang malas dan tak mau mencari pekerjaan, itu terkadang kerap membuat Megawati marah kepadanya.
Begitu juga halnya tepat di hari nahas menimpa Megawati. Ketika meminta uang membeli rokok itu, Megawati lagi-lagi memarahi Wem. Bukan tanpa alasan, pasalnya Wem sudah kembali ke rumah itu dengan membawa anaknya sepulang dari Batam.
Pun demikian, yang namanya hasrat seorang ibu tak tega melihat anaknya begitu saja. Dengan kerandahan hati pula, Megawati memberi selembar uang yang diminta putra sulungnya tersebut. Setelah diberikan uang, Wem langsung beranjak untuk membeli rokok yang diinginkannya.
Hal itu pula yang membuat Megawati makin marah besar. Sebab, rokok yang dibeli Wem bukan dengan harga yang murah, tapi cukup menguras kantong Megawati. Kemarahan Megawati toh tak membuat Wem sadar diri, tapi makin beringas.
Wem, si anak durhaka menendang dan memukuli ibu kandungnya tersebut. Meski kondisi Megawati saat itu sudah berdarah di wajah, tak membuat Wem mereda. Wem malah makin kesetanan dengan menumpahkan seluruh tenaga untuk menghajar ibunya.

Lokasi Korban dikubur pelaku yang langsung di evakuasi oleh pihak kepolisian. | (Foto Humas Polresta Medan)
Cutter di Atas Kulkas
Cerita tega Wem tak terlepas sampai di situ. Ketika kondisi Megawati sudah dalam kondisi sekarat, Wem melirik sebuah pisau cutter yang ada di atas kulkas mereka. Wem melangkah kaki ke arah kulkas dan mengambil 'alat' pembunuh tersebut.
Wem kembali menghampiri Megawati yang tergeletak di ruang tengah rumahnya. Dengan sadisnya, Wem mengarahkan pisau cutter itu ke leher ibunya. Sekali beset, darah langsung mengucur dari leher sang ibu. Kabar diperoleh, kondisi Megawati sudah meninggal dunia ketika Wem menggorok Megawati menggunakan pisau cutter.
Megawati pun tewas, tapi tak membuat hati Wem tenang. Setelah kejadian itu Wem kembali putar otak. Mungkin, dengan maksud ingin menghilangkan jejak supaya terlepas dari hukum yang baru diperbuat terhadap ibu kandungnya. Wem selanjutnya mengangkat jasad Megawati ke ruang dapur. Lalu beranjak untuk ke rumah tetangganya.
Wem saat itu meminjak cangkul milik tetangganya tersebut. Tanpa curiga, sang tetangga kabarnya memberikan cangkul yang dipinjam Wem. Seketika Wem membawa cangkul ke belakang rumahnya. Dia membuat lubang seadanya. Setelah kondisi aman, Wem mengangkat jasad ibu kandungnya tersebut ke halaman belakang rumah mereka.
Di situ mayat sang ibu yang mengandungnya 9 bulan 10 dikeburnya. Usai mengubur jasad Megawati, Wem memulangkan cangkul ke tetangganya. Pun demikian, seharian Wem merasa tak tenang. Apalagi Megawati harus meninggalkan dunia fana ini karena ulah Wem sendiri.
Dua hari berselang, Wem menghubungi adiknya untuk datang ke rumah. Kepada adiknya, Wem mengaku telah membunuh ibu mereka dan menguburkan di belakang rumah. Karena tahu Wem dikenal punya mental yang tak stabil, alhasil sang adik memanggil kepala lingkungan setempat.
Candu Narkoba Hingga Depresi
Adalah Maisal Putra, Kepala Lingkungan XIII tempat Megawati dan Wem bermukim di Jalan Tuba III, Kota Medan, Sumatera Utara. Sekira pukul 01.00 WIB, Rabu (3/4/2024), Maisal mendapat kabar tak sedap dari keponakan pelaku.
Di situ keponakan Wem bilang bahwa nenek mereka (Megawati) telah meninggal dunia. Wem Pratama sebagai pelaku pembunuhnya. Jasad sang ibu dikubur Wem di belakang rumah mereka. Tak pelak, hal itu membuat Maisal kaget. Awalnya dia pun tak menyangka mengapa Wem Pratama senekat itu menghabisi nyawa ibu kandungnya.
"Sekitar pukul satu saya dikabari oleh keponakan pelaku, langsung mendatangi TKP. Di situ kami lihat bersama si pelaku telah diamankan oleh warga," ujar Maisal Putra di lokasi kejadian.
Apa yang membuat pelaku hingga berbuat nekat. Pertanyaan itu muncul, apalagi di bulan penuh berkah Ramadhan ini. Menurut Maisal, pelaku kesal karena sering dimarahi ibunya. Dilihat dari sikap pelaku yang pengangguran, punya anak pula dan masih meminta kepada ibunya, sepertinya lazim Megawati kerap memarahi Wem Pratama.
Ditambah lagi pelaku kerap memakai narkoba cuma untuk heppy semata. Usai memastikan ibunya meninggal, lanjut Maisal, tersangka dengan santai meminjam cangkul pekerja bangunan.
"Setelah dilihatnya tidak bergerak, diseretnya ke belakang rumah. Dia meminjam cangkul untuk menggali kuburan," jelas Maisal lagi. Maisal bilang bahwa suami Megawati sudah meninggal. "Anaknya ada empat, pelaku ini anak nomor satu, adik-adiknya yang lain ada tinggal di Batam," ungkapnya.
Maisal pun tak memungkiri pelaku sering buat kesal warga sekitar. "Di sini agak mengesalkan bagi masyarakat kita, dia tidak mengganggu, cuma dia jangan ditegur, marah," bebernya.
Setelah fix atas informasi tersebut, Maisal menghubungi Polsek Medan Area. Kapolsek Medan Area Kompol Hendrik F Aritonang mengatakan, pihaknya telah mengamankan pelaku dan saat ini sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Kepala Lingkungan XIII, Maisal Putra, mengatakan pembunuhan berawal saat pelaku meminta uang rokok ke pada sang ibu. "Ibunya kerja jual obat obat anti nyamuk. Pas pulang kerja, pelaku minta beli rokok. Namun, korban tidak memberikan uang. Langsung lah pelaku menghajar mamaknya," sebutnya.
Pelaku baru bercerai dan pernah direhabilitasi karena narkoba Wen Pratama baru sebulan tinggal bersama sang ibu. Awalnya pelaku tinggal di Batam. Setelah bercerai, baru ia kembali pulang ke Medan membawa anaknya yang masih berusia 4 tahun.
"Dia ini tinggal di Batam, baru saja sebulan tinggal di sini kejadian. Anaknya yang umur 4 tahun juga tinggal di sini, adik-adiknya semua merantau. Katanya dia sudah cerai dengan istrinya," sebutnya.
Maisal menyebut, pelaku sebelumnya pernah dibawa ke rumah sakit jiwa dan tempat rehabilitasi karena kecanduan narkoba. "Dia sudah depresi, sudah pemakai (narkoba), saya paham betul. Itu bolak balik saya bersama warga masukkan dia RS jiwa, BNN, saya masukkan ke rehab," ujar Maisal.
Menurut Maisal, pelaku nekat membunuh ibunya karena kesal sering dimarahi. "Sempat saya introgasi pelaku. Pengakuannya dia depresi, sudah nggak ada lagi rasa kasihan di dalam dirinya," kata Maisal.
Tanpa Rasa Kesal
Polisi mengungkap motif di balik pembunuhan yang mengguncang Kota Medan, Sumatra Utara. Wem Pratama mengejutkan banyak orang dengan tindakannya membunuh ibunya, Megawati (56 tahun), setelah dimarahi karena membeli rokok dengan harga mahal.
Dalam konferensi, Kamis (4/4/2024), Kapolrestabes Medan, Kombes Pol. Teddy Jhon Marbun, mengungkapkan bahwa motif pembunuhan itu bermula dari pertengkaran sepele antara ibu dan anak. Ibunya, yang membiayai kehidupan putranya yang menganggur, marah karena uangnya dipakai untuk membeli rokok dengan harga mahal.
Video penangkapan Wem Pratama yang beredar di media sosial menampilkan pengakuan tragis dari pelaku. Dalam video tersebut, Wem mengaku bahwa rasa kasih sayangnya terhadap ibunya telah hilang, memicu tindakan mengerikan itu.
Ya (dibunuh) di tanggal 1, sudah tidak ada bu, rasa kasihan ku sudah habis ibu. Benar rasa kasihan aku sudah habis ibu, sebutnya.
Dan pelaku pun mengaku tak merasa kehilangan sang ibu yang telah dihabisi dengan sadis. Wem bilang dia sama sekali tak menyesal telah membunuh ibunya. Ya, karena Wem merasa selama ini kerap dimarahi sehingga membuatnya naik pitam sampai nekat membunuh orangtuanya itu.
Kapolrestabes Medan Kombes Pol Teddy Jhon Marbun menambahkan akibat perbuatannya, pelaku disangkakan Pasal 340 Jo 338. Ada pun pasal diterapkan Pasal 340 Jo 338, pungkasnya.
Penulis : Rudi
Editor : Redaksi