03 Sep 2026 | Dilihat: 13 Kali

Hadapi Puncak Kemarau, Polres Bireuen Perkuat Sinergi Cegah Karhutla

noeh21
Kapolres Bireuen AKBP Yulhendri, S.H., S.I.K., S.Psi., M.I.K memeriksa perlengkapan pemadam kebakaran yang digunakan untuk memadamkan api jika terjadi kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Foto: IJN/Ist.
      
IJN - Bireuen | Menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga September 2026, Polres Bireuen memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
 
Upaya tersebut ditandai dengan Apel Gelar Pasukan Pencegahan dan Penanganan Karhutla Tahun 2026 yang digelar di Lapangan Hijan 97 Wira Pratama Mapolres Bireuen, Kamis, 3 September 2026 yang dipimpin Kapolres Bireuen AKBP Yulhendri, S.H., S.I.K., S.Psi., M.I.K.
 
Kegiatan melibatkan personel gabungan TNI-Polri, Basarnas, Damkar, BPBD, Satpol PP, RAPI, Polhut dan Dinas Kesehatan. Keterlibatan lintas instansi tersebut menjadi bagian dari penguatan koordinasi dalam menghadapi potensi Karhutla di wilayah Kabupaten Bireuen.
 
Kapolres Bireuen mengatakan, apel bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memastikan kesiapan personel maupun sarana prasarana sekaligus memperkuat sinergi seluruh pihak.
 
“Apel gelar pasukan yang kita laksanakan hari ini memiliki makna yang sangat strategis, bukan sekadar seremonial, melainkan wujud kesiapan, keseriusan, dan komitmen kita bersama dalam menghadapi potensi Karhutla,” ucap AKBP Yulhendri.
 
Menurutnya, prediksi BMKG terkait puncak musim kemarau di Aceh pada Juni hingga September 2026, ditambah potensi fenomena El Nino kategori lemah, perlu diantisipasi bersama.
 
Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama pada lahan kering, gambut, perkebunan, kawasan hutan dan semak belukar.
 
Karena itu, Kapolres menekankan pencegahan harus menjadi langkah utama. Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat perlu dilakukan secara masif, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
 
Bhabinkamtibmas juga diminta mengoptimalkan perannya sebagai ujung tombak pencegahan di tingkat desa dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
 
“Perkuat sinergitas dan soliditas antar instansi dalam satu gerakan, satu komando, dan satu tujuan. Hilangkan ego sektoral, karena yang kita hadapi adalah api, bukan kewenangan,” tegasnya.
 
Selain pencegahan, Kapolres menegaskan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan harus dilakukan secara tegas, profesional dan berkeadilan.
 
Kesiapsiagaan personel dan peralatan juga menjadi perhatian, termasuk memastikan ketersediaan sarana pemadam, komunikasi, kendaraan serta dukungan logistik.
 
Polres Bireuen juga mendorong pemetaan dan deteksi dini terhadap wilayah rawan, sumber air dan akses menuju lokasi. Setiap laporan hotspot diminta segera diverifikasi dan ditindaklanjuti.
 
“Pencegahan Karhutla adalah bagian dari upaya menjaga keselamatan, keamanan dan ketenteraman masyarakat. Saya percaya, dengan kesungguhan, kedisiplinan, sinergitas dan kerja keras kita semua, kita mampu mewujudkan wilayah hukum Polres Bireuen bebas asap, zero Karhutla,” kata Yulhendri.
 
Usai apel, Kapolres bersama unsur Forkopimda melakukan pengecekan terhadap sarana dan prasarana yang disiapkan untuk mendukung pencegahan serta penanganan Karhutla.
 
Langkah tersebut sekaligus menegaskan kesiapan Kabupaten Bireuen menghadapi risiko kebakaran selama periode kemarau, dengan mengedepankan pencegahan, respons cepat dan kerja bersama lintas sektor.
 
Penulis | Amiruddin 
Editor | Muhammad Zairin