Potensi Wisata Pidie: Geudeu-Geudeu Olahraga Adu Nyali Antar Kampung
Olahraga tradisional Geudeu-Geudeu yang ada di Sigli. | (Foto Ist)
IJN – Pidie | Permainan Gulat ternyata sudah lama ada di Provinsi Aceh. Salah satunya tergambar di Kabupaten Pidie. Pun namanya berbeda dan cara permainan sangat mirip dengan Gulat. Bahkan Gulat ala Kabupaten Pidie yang disebut Geudue-Geudeu ini telah muncul semasa penjajahan Belanda di negeri ini.
Geudeu-Geudeu ini, menurut literasi masuk ke dalam olahraga tradisional. Setiap orang yang memasuki gelanggang arena pertandingan harus memiliki ketahanan fisik dan mental yang kuat serta tahan pukul.
Menurut Mustafa, setahunya dalam pertandingan Geudeu-Geudeu ini dilakukan di gelanggang besar. Seperti di arena lapangan yang ditonton ribuan orang. Dulunya, kata Mustafa, Geudeu-Geudue kadang dijadikan hiburan selepas panen raya.
Malah para petarung yang bertanding perwakilan dari masing-masing kampung (Gampong). Rata-rata jagoan dari kampung itu bertubuh kekar, tahan fisik dan mental. "Kalau hadiahnya, setahu saya seadanya saja. Karena ini memperlihatkan gengsi antar gampong saja," tutur Mustafa, Minggu 13 Oktober 2024.
Dalam satu tim Geudue-Geudue terdiri dari tiga orang dengan mental serta jiwa petarung yang tinggi. Kadang juga satu lawan satu dengan seorang wasit. Biasanya kegiatan ini dipertandingkan antar kampung setiap selesai panen padi.
Awalnya, kegiatan ini digunakan untuk latihan perang serta mengasah mental dan jiwa laskar kerajaan. Ada pula versi lainnya yang lebih ekstrem yaitu permainan ini dilakukan sebagai isyarat kapal peperangan sudah digali. Seiring berjalannya waktu, Geudeu-geudeu yang semula untuk kegiatan latihan biasa, berubah menjadi ajang adu otot.
Geudeu-geudeu adalah bagian dari olahraga yang keras. Apabila para petarung tidak bisa menahan diri tentu akan berujung dengan kematian. Sehingga dulunya kegiatan ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang berani mati.
Permainan Geudeu-Geudeu.
"Ketika para petarung sudah berada di arena, tentu mereka akan dihadapkan dengan beberapa pertimbangan penting, seperti kesabaran, mental, fisik, dan tahan pukul," ulas Ramadhan yang tinggal di Beureunuen ini.
Dalam sistem Geudeu-geudeu ini para penonton bisa menggantikan peran petarung yang didukung karena sudah tersulut emosinya. Melansir dari berbagai sumber, para petarung biasanya membawa pawang untuk mengontrol tenaga dalam mereka. Biasanya pawang akan ikut dalam gelanggang arena dengan dupa, sirih, dan ucapan mantra-mantra.
Penonton sebenarnya terpisah jelas dengan pemain. Mereka biasanya mengambil tempat dekat kelompok jagoannya. Tetapi bagi mereka yang terserang emosi boleh masuk ke gelanggang menggantikan jagoannya yang tak mampu.
Wilayah permukiman dalam kaitan ini bisa terdiri Mukim, Meusanah, Tumpok, atau Sagoe.
Kekalahan dalam permainan ini bukan hanya disebabkan karena lemah fisik, tetapi juga berasal dari masalah tenaga dalam. Karena itulah seorang jagoan akan membawa pawang ke dalam arena bertarung.
Meski di arena mereka babak belur dan bonyok, tapi di luar arena itu dianggap sebagai sebuah kewajaran dan banyak dari petarung ini yang melanjutkan Duduk-duduk/minum kopi bersama selepas pertandingan.
Sistem pada permainan Geudeu-Geudeu yakni petarung pertama yang menantang dua lawan disebut ureung tueng (penantang). Sedangkan petarung yang ditantang yang berjumlah dua orang tadi, disebut sebagai ureug pok (orang yang menerima tantangan).
Ketika diserang, petarung pertama akan memukul dan menghempas dua petarung lain yang menyerangnya. Dan Khusus bagi ureung tueng boleh menggunakan gempalan tanganya untuk memukul dimana saja, kecuali di bawah pusar.
Lazimnya sebuah pertandingan, Geudeu-Geudeu juga dipimpin oleh beberapa orang wasit, yang disebut sebagai ureung seumeugla (juri pelerai) yang biasanya berjumlah empat atau lima orang. Para juri tersebut juga merupakan orang orang yang tangkas dan kuat, sehingga mampu melerai para petarung.
Seorang wasit Geudeu-Geude bisa melihat apakah petarung itu memukul dengan sikap profesionalisme atau emosional. (***)