24 Okt 2026 | Dilihat: 29 Kali
Tekan Polusi, BMKG Modifikasi Cuaca di Jakarta hingga 25 Oktober 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Jakarta sepanjang 21—25 Oktober 2026. Foto. IJN
IJN - Jakarta | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Jakarta sepanjang 21—25 Oktober 2026.
Operasi ini bertujuan menurunkan polusi udara yang dapat mengganggu jalannya event yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa OMC merupakan bagian dari penguatan sinergi BMKG dan Pemprov DKI dalam upaya mitigasi bencana hidrometeorologi, serta pemantauan dan pengendalian pencemaran kualitas udara.
Informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika sangat diperlukan untuk mendukung pengambilan keputusan dan penanganan isu lingkungan perkotaan.
“Terkhusus dalam aspek kualitas udara, BMKG dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta telah melakukan pertukaran data terkait parameter meteorologi dan kualitas udara,” ungkap Faisal di Jakarta, Sabtu 24 Oktober 2026.
Saat ini, kata Faisal, pemantauan serta analisis kualitas udara, seperti informasi PM2.5 terkini dan prediksi hingga tiga hari ke depan, semakin mudah diakses masyarakat melalui aplikasi JAKI.
"Ke depan, penguatan sistem peringatan dini kualitas udara diupayakan dapat mendukung komunikasi risiko dan aksi dini masyarakat, terutama kelompok rentan," demikian tutupnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan, pelaksanaan OMC harus berlandaskan pada kajian meteorologis, kondisi atmosfer, serta kebutuhan operasiona.
Ia berharap OMC dapat membantu mendukung upaya mitigasi polusi udara di wilayah Jakarta dan sekitarnya melalui intervensi awan untuk penurunan hujan.
“Hujan berpotensi membantu membersihkan sebagian partikel pencemar dari atmosfer, meskipun efektivitasnya bergantung pada kondisi cuaca dan karakteristik pencemar. Upaya ini juga diharapkan dapat mendukung terciptanya kondisi lingkungan yang lebih nyaman di tengah kondisi suhu panas,” tutur Seto.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menambahkan bahwa, pada periode penyemaian awan, kondisi atmosfer lokal yang lembap disertai massa udara konvektif sedang mendukung turunnya hujan di wilayah Jabodetabek. Hingga 23 Oktober, penyemaian awan telah dilakukan dengan menaburkan 4.000 kg garam (NaCl) dalam empat sorti penerbangan.
“Pada Jumat (23/10), telah dilaksanakan dua sorti penyemaian awan di ketinggian 10.000—11.000 kaki (3.048—3.352,8 meter). Penerbangan sorti pertama menyasar awan potensial di area Jakarta Selatan, Bekasi, Depok, dan Bogor; sedangkan penerbangan sorti kedua berfokuskan pada penyemaian di area Bogor,” papar.
Penyemaian awan menggunakan armada pesawat jenis Cessna Caravan C208B bernomor registrasi PK-SNH, dengan pusat komando (posko) berlokasi di Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten. Usai penyemaian awan, berdasarkan pantauan citra radar BMKG dan laporan visual pada sore hingga malam hari, terpantau adanya kejadian hujan di area Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
BMKG menegaskan, OMC merupakan salah satu instrumen pendukung mitigasi dan tidak menggantikan upaya pengendalian pencemaran udara yang berasal dari emisi ataupun langkah-langkah pengelolaan lingkungan lainnya.
"Maka dari itu, sinergi antarlembaga dan pemanfaatan informasi cuaca serta kualitas udara tetap menjadi bagian penting dalam mendukung lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan tangguh,," demikian tutupnya.
Penulis: Kontributor Jakarta
Editor: Redaksi