24 Okt 2026 | Dilihat: 30 Kali

Kanwil Ditjenpas Aceh dan USK Sepakati Sinergi Pembinaan Warga Binaan Berbasis Inovasi

noeh21
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Aceh resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Universitas Syiah Kuala (USK) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Gedung Rektorat USK. Foto. Ist
      
IJN - Banda Aceh | Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Aceh resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Universitas Syiah Kuala (USK) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Gedung Rektorat USK, Jumat 23 Oktober 2026, sore.
 
Langkah ini menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperkuat sinergi antara institusi pemasyarakatan dan perguruan tinggi, khususnya untuk meningkatkan kualitas program pembinaan serta pemberdayaan Warga Binaan di wilayah Aceh.
 
Penandatanganan Nota Kesepahaman dilakukan langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Aceh, Ramdani Boy bersama Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Mirza Tabrani.

Tak berhenti pada kesepakatan tingkat lembaga, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) secara konkret antara Kanwil Ditjenpas Aceh dan Fakultas Pertanian USK yang diwakili oleh Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Sabaruddin.
 
Kolaborasi ini membuka peluang besar pemanfaatan riset, ilmu pengetahuan, serta inovasi akademis dari USK untuk mendukung pembinaan kemandirian warga binaan, khususnya pada sektor pertanian dan pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.
 
Kakanwil Ditjenpas Aceh, Ramdani Boy, menegaskan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan peluang penting untuk menghadirkan pembinaan yang lebih inovatif, terarah, dan sesuai dengan kebutuhan warga binaan.
 
“Pemasyarakatan tidak dapat berjalan sendiri. Dukungan dan kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat kualitas pembinaan, sehingga program yang kita laksanakan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kewajiban, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi warga binaan,” ujar Ramdani Boy.
 
Menurutnya, keterlibatan dunia akademik dapat memperkaya program pembinaan melalui penerapan ilmu pengetahuan, hasil penelitian, inovasi, serta pendampingan oleh tenaga ahli. Potensi tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang memberikan nilai tambah bagi warga binaan.
 
“Kami ingin warga binaan mendapatkan bekal yang benar-benar bisa dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat. Keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman yang diperoleh selama menjalani pembinaan harus menjadi modal untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri dan produktif,” tambahnya.
 
Penandatanganan PKS bersama Fakultas Pertanian USK menjadi salah satu bentuk konkret pengembangan kerja sama tersebut. Kolaborasi ini membuka peluang pemanfaatan keahlian akademik untuk mendukung program pembinaan berbasis pertanian, pengembangan keterampilan praktis, serta peningkatan produktivitas warga binaan sesuai potensi masing-masing UPT Pemasyarakatan.
 
Ramdani Boy menyampaikan bahwa kerja sama tersebut diharapkan dapat diterjemahkan menjadi program yang aplikatif dan berkelanjutan.
 
“Potensi keilmuan yang dimiliki Fakultas Pertanian USK sangat terbuka untuk kita sinergikan dengan program pembinaan kemandirian di UPT Pemasyarakatan. Harapannya, akan lahir kegiatan produktif yang tidak hanya melatih keterampilan, tetapi juga menumbuhkan semangat berwirausaha dan membuka peluang kemandirian ekonomi bagi warga binaan,” jelasnya.
 
Ia juga menekankan pentingnya memastikan setiap kesepakatan ditindaklanjuti dengan langkah nyata dan evaluasi yang terukur.
 
“Bagi kami, keberhasilan kerja sama ini bukan hanya diukur dari penandatanganan nota kesepahaman, melainkan dari implementasi program dan manfaat yang dirasakan. Karena itu, kami berharap sinergi ini terus berlanjut melalui kegiatan yang terencana, terukur, dan berkesinambungan,” tegas Kakanwil.
 
Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani, menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Kerja sama dengan Kanwil Ditjenpas Aceh diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk menghadirkan kontribusi akademik yang berdampak langsung terhadap pembinaan warga binaan.
 
“Kerja sama ini merupakan kesempatan bagi USK untuk memperluas kontribusi perguruan tinggi melalui penerapan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Kami berharap kolaborasi ini dapat dikembangkan menjadi program konkret, khususnya dalam meningkatkan keterampilan dan produktivitas warga binaan,” ujar Prof. Mirza Tabrani.
 
Ia juga menekankan pentingnya kesinambungan program agar kerja sama yang terjalin dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
 
“Kami berharap sinergi ini tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi dilanjutkan dengan program yang terencana dan berkelanjutan. Dengan keterlibatan fakultas dan tenaga ahli yang relevan, kami optimistis kolaborasi ini dapat mendukung peningkatan kapasitas warga binaan sekaligus mempersiapkan mereka untuk kembali berkontribusi di tengah masyarakat,” tambahnya.
 
Dukungan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya memperkuat aspek kelembagaan, tetapi juga membuka ruang pengembangan program pembinaan yang relevan dengan kebutuhan lapangan dan potensi sumber daya yang tersedia.
 
Melalui penandatanganan Nota Kesepahaman dan PKS tersebut, Kanwil Ditjenpas Aceh berharap terbangun kolaborasi lintas sektor yang berorientasi pada hasil. Sinergi ini menjadi bagian dari upaya mendorong pemasyarakatan yang produktif, humanis, dan berorientasi pada reintegrasi sosial.
 
Dalam kegiatan tersebut, Kakanwil Ditjenpas Aceh turut didampingi oleh Kepala Bagian Tata Usaha dan Umum, Yusrizal, serta Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan, Peristiwa Br Sembiring. Kegiatan ini juga dihadiri oleh para Kepala UPT Pemasyarakatan di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar.
 
Melalui sinergi bersama USK, Kanwil Ditjenpas Aceh terus mendorong penguatan pembinaan yang tidak hanya berfokus pada perubahan perilaku, tetapi juga peningkatan kompetensi, produktivitas, dan kemandirian warga binaan sebagai bekal untuk kembali berperan positif di tengah masyarakat.





Penulis: Hendria Irawan
Editor: Redaksi
Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas